Film “Before Now and Then (NANA)” Ikut Kompetisi Dunia Berlinale

Must Read

Film “Before Now and Then (NANA) besutan Kamila Andini siap dibawa ke kancah internasional melalui kompetisi dunia Berlinale yang akan bersaing dengan film negara – negara lain

Film “Before Now and Then (NANA)” berhasil lolos dan terseleksi dalam program kompetisi
utama yang merupakan program inti dari festival.

Total sebanyak 18 film terpilih dan  akan berkompetisi untuk memperebutkan penghargaan ‘Golden Bear’ dan ‘Silver Bear’ salah satunya Film “Before Now and Then (NANA)” yang akan bersaing.

Before Now and Then
Foto : Istimewa

Tahun ini film “Before Now and Then (NANA)” akan berkompetisi bersama film-film dari
pembuat film dunia ternama seperti sutradara Carla Simon, Claire Denis, Rithy Panh, Denis
Cote, Paolo Taviani, Ulrich Siedl, Andreas Dresen, Hong Sang Soo, Isaki Lacuesta, dan François Ozon.

Kamila Andini menjadi sutradara perempuan pertama Indonesia yang berkompetisi di Berlinale sejak terakhir kali Sofia WD lewat film “Badai Selatan” di tahun 1962. Di antaranya, Edwin juga muncul di tahun 2012 lewat “Postcards from the Zoo”.

Dengan visi merangkul keragaman sinema dan cakupan produksinya yang luas di abad ke-21 ini, program kompetisi ini memiliki tujuan untuk memberi kejutan, menghibur, serta memperkaya tontonan pada para penonton dan profesional industri.

Before Now and Then
Foto : Istimea

“Before, Now & Then (NANA)” bercerita tentang seorang perempuan Indonesia yang hidup di daerah Jawa Barat di era 1960-an yang diangkat dari sebuah kisah nyata kehidupan Raden Nana Sunani. Kisah seorang perempuan yang melarikan diri dari gerombolan yang ingin menjadikannya istri dan membuatnya kehilangan ayah dan anak.

Ia lalu menjalani hidupnya yang baru bersama seorang menak Sunda hingga bersahabat dengan salah satu perempuan simpanan suaminya. Sesuai latar tempatnya, film ini akan menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa utama yang dipakai di film.

Bukan tanpa alasan mengapa Kamila Andini memilih film periodik untuk diangkat.

Before Now and Then
Foto : Istimewa

“Film periodik Indonesia selalu terkait dengan sesuatu yang besar atau tentang seorang tokoh penting, sedangkan ketika saya mengerjakan ini saya ingin menceritakan seorang tokoh perempuan pada umumnya, seperti nenek kita, kakak kita atau ibu kita, yang bisa disayangi dengan semua kekurangan dan kelebihannya.”kata Kamila dalam Siaran Pers, Jumat (28/1/22).

Kebetulan saja ia hidup di masa itu. Tapi kita juga bisa berefleksi dengan masa itu dan masih bisa terhubung dengan masa kini. Saya ingin membuat jembatan dari masa lalu
ke masa sekarang.” ungkapnya.

“Perempuan adalah korban jaman yang paling nyata. Tapi di setiap zaman, selalu ada sosok perempuan yang tidak pernah sekalipun menjadikan dirinya korban, meskipun tetap tidak lepas dari pengorbanan. Nana adalah kisah perempuan yang menjadi korban sebuah era; perang, politik, pemberontakan dan kehidupan sosial patriarki yang ingin mencari arti kebebasannya sendiri.”tutup Kamila.(Kintan).
.

 

- Advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisement -

Latest News

Soundrenaline 2022 Mengebrak Jakarta Dengan 18 Musisi Internasional

Soundrenaline sebagai festival musik terbesar di Indonesia yang telah mencapai usia 18 tahun, turut serta membangkitkan semangat bermusik para...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -