2025 #PraxiSurvey: Bukan Sekadar Harga, Pengguna Mobil Listrik Indonesia Prioritaskan Faktor Jangka Panjang Ini.

Praxis adalah agensi public relations (PR) dan public affairs (PA) Sejak didirikan pada tahun 2011, Praxis telah membantu klien dari berbagai industri dalam membangun dan melaksanakan ide-ide komunikasi untuk menciptakan, memelihara, dan meningkatkan hubungan yang saling menguntungkan dengan masyarakat umum.

Selain memiliki spesialisasi dalam kegiatan yang berkaitan dengan media, Praxis juga menyediakan berbagai layanan komunikasi seperti Public Affairs, Government Relations, Communication Research, Executive Training, Digital Activation, dan Media Monitoring.

Di tengah pergeseran lanskap otomotif nasional, PraxiSurvey melihat tren mobil listrik menunjukkan geliat yang semakin kuat dan menjadi sebuah keniscayaan. Seiring meningkatnya minat publik terhadap kendaraan listrik, yang tercermin dari data pengunjung Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025 yang meningkat menjadi 485.569 orang dari 475.084 di tahun sebelumnya, menandakan antusiasme publik yang tinggi.

Praxis

Lanskap preferensi konsumen otomotif Indonesia menunjukkan sebuah pergeseran fundamental. Bukan lagi sekadar terpikat harga murah, para calon pengguna mobil listrik kini telah berevolusi menjadi konsumen yang lebih matang, dengan pertimbangan yang lebih berorientasi pada fungsi dan nilai jangka panjang.

“Melihat tren tersebut, Praxis meluncurkan hasil riset kelima kami yang berjudul ‘Potensi dan Tantangan Mobil Listrik di Indonesia dari Persepsi Pengguna’. Survei ini secara komprehensif memotret perilaku, preferensi, dan aspirasi dari 1.200 pengguna mobil listrik di 12 kota besar di Indonesia, memberikan peta jalan yang jelas bagi para pemangku kepentingan industri,” jelas President Director Praxis, Adwi Yudiansyah.

Survei ini menghasilkan beberapa temuan menarik:

Praxis

  1. Daya tahan baterai (35,17%) menjadi faktor lebih penting bagi pengguna mobil listrik, mengungguli harga beli (21,33%) dan reputasi merek (18,5%)
  2. Saat dihadapkan pada pilihan promosi, mayoritas responden (52%) menyatakan garansi baterai sebagai penawaran yang paling memengaruhi keputusan pembelian mereka, diikuti dengan diskon harga beli (30%) dan bundling wall charger (10%)
  3. Pun hampir separuh responden (46%) menempatkan ketersediaan infrastruktur sebagai prioritas kebijakan utama, yang mencakup perluasan akses Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dan jaminan ketersediaan bengkel resmi yang mumpuni
  4. Meskipun 79% pengguna menilai pengalaman berkendara mobil listrik lebih baik dibandingkan mobil konvensional, 78% pengguna juga merasa rata-rata durasi pengisian daya selama 6 jam terlalu lama. Angka ini sangat jauh dari durasi ideal yang mereka harapkan, yaitu 1-2 jam atau kurang
  5. Selain itu, media sosial (51%) terbukti menjadi platform paling efektif sebagai sumber informasi bagi pengguna mobil listrik dibandingkan pameran otomotif (22%)

Praxis

Head of Research Praxis, Garda Maharsi, dalam paparannya menyatakan, “Riset ini kami luncurkan untuk memberikan panduan berbasis data yang konkret bagi seluruh ekosistem. Temuan ini menunjukkan bahwa pengguna mobil listrik di Indonesia telah bergerak melampaui ‘demam harga murah’, namun juga memprioritaskan faktor penggunaan hingga kebijakan untuk jangka panjang. Ini menjadi tanda pasar yang semakin dewasa. Harapan kami, data ini dapat menjadi jembatan yang menghubungkan ekspektasi pengguna dengan strategi yang akan diterapkan oleh produsen, pemerintah, dan penyedia infrastruktur, sehingga akselerasi adopsi mobil listrik berjalan lebih efektif dan tepat sasaran.”

Secara keseluruhan, hasil riset Praxis menegaskan bahwa Indonesia berada di titik krusial transisi menuju mobilitas listrik. Antusiasme dan kepuasan pengguna yang tinggi menjadi fondasi yang kokoh. Kini, tugas bersama bagi seluruh pemangku kepentingan adalah menjawab aspirasi pengguna dengan aksi nyata, membangun ekosistem yang andal, terjangkau, dan mudah diakses, demi mewujudkan masa depan transportasi yang lebih bersih dan efisien.

“PLN telah menyediakan lebih dari 4.000 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di seluruh Indonesia sesuai amanat Peraturan Presiden (Perpres) No. 55 Tahun 2019, termasuk SPKLU tiang yang dikembangkan secara mandiri. Untuk mengatasi keterbatasan lahan, PLN bermitra dengan berbagai pihak melalui skema bagi hasil (revenue sharing), sementara di wilayah pelosok dengan penetrasi kendaraan listrik rendah, SPKLU tersedia di seluruh kantor PLN, baik tipe standard charging maupun fast charging.” kata Vice President Teknologi & Inkubasi Produk Niaga PT PLN (Persero), Nuraida Puspitasari.

Di daerah padat, tantangan utama adalah ketersediaan lahan, sehingga kerja sama dengan mitra swasta menjadi penting. Saat ini, rasio SPKLU terhadap jumlah kendaraan listrik di Indonesia berada di kisaran 1:25, dan PLN menargetkan peningkatan menjadi 1:17. Untuk mencapainya, PLN terus mencari metode paling efektif dalam memperluas jaringan, meningkatkan keamanan, dan mempercepat pembangunan melalui kolaborasi dengan pihak swasta.”tambahnya

“Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, industri, praktisi komunikasi, serta para early adopter untuk memberikan edukasi kepada pengguna dan calon pengguna, sehingga adopsi mobil listrik dapat berlangsung lebih cepat dan luas. Edukasi ini tidak hanya soal manfaat, tetapi juga risiko yang mungkin terjadi, karena setiap teknologi dan kendaraan memiliki potensi insiden meski tidak diharapkan. Dengan sosialisasi yang memadai, masyarakat dapat memahami langkah preventif maupun penanganan yang tepat. Mengingat adanya target pemerintah seperti net zero emission, seluruh pelaku dalam ekosistem kendaraan listrik harus saling mendukung untuk mempercepat transisi.” Director of Public Relations Praxis, Stephanie Sicilia,

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img