Jakarta – Haryanto Hesaputra justru mengambil langkah yang berbeda Di saat banyak orang memilih menikmati masa pension ia terus aja berkarya. Musisi asal Padang yang akan genap berusia 63 tahun itu resmi merilis album perdananya bertajuk Berdendang Menari, sebuah karya yang menjadi puncak perjalanan musikalnya sejak memulai karier rekaman pada 2019.
Bukan sekadar kumpulan lagu, Berdendang Menari menjadi potret perjalanan hidup, mimpi, serta konsistensi Haryanto Hesaputra dalam bermusik. Album ini menghadirkan 11 lagu dengan warna yang beragam, mulai dari pop, fusion jazz, religi, hingga lagu-lagu bertema cinta, kehilangan, dan semangat menjalani kehidupan.
“Album ini adalah perjalanan panjang saya sejak merilis single pertama pada 2019. Semua karya itu akhirnya kami satukan menjadi satu album. Ini bukan akhir, justru awal untuk terus berkarya,” ungkap Haryanto Hesaputra saat peluncuran album di Komune Place Simatupang, Jakarta Selatan, Sabtu (11/7/2026).

Berawal dari Single, Berakhir Jadi Album Penuh Cerita
Proses lahirnya Berdendang Menari ternyata berlangsung selama bertahun-tahun. Awalnya Haryanto Hesaputra hanya merilis beberapa single secara bertahap, termasuk sejumlah lagu religi. Namun seiring waktu, ide-ide baru terus bermunculan hingga akhirnya terkumpul sebelas lagu yang dianggap layak menjadi satu album utuh.
“Awalnya hanya beberapa single. Dari situ berkembang terus sampai akhirnya terkumpul sebelas lagu. Kami merasa ini sudah saatnya dijadikan sebuah album,” ujarnya.

Keputusan tersebut juga menjadi cara Haryanto melihat bagaimana publik menerima seluruh karya yang selama ini ia ciptakan. Baginya, mengikuti tren bukanlah tujuan utama.
“Kita tidak pernah tahu selera masyarakat seperti apa. Jadi kami lempar saja karya ini. Yang menarik, ternyata di TikTok banyak yang mulai meminta lagu-lagu kami,” katanya.
Sagi Antony: Identitas Musik Tetap Nomor Satu

Kesuksesan lahirnya album ini tak lepas dari peran musisi senior Sagi Antony, yang menjadi Music Director sekaligus partner kreatif Haryanto sejak 2023.
Menurut Sagi, mereka memang mengikuti perkembangan industri musik digital dan mendengarkan respons pendengar. Namun satu hal yang tidak pernah dikorbankan adalah identitas musikal.
“Kami tentu mendengar respons masyarakat, tapi tidak keluar dari identitas musik yang sudah kami bangun. Itu yang paling penting,” ujar Sagi.

Ia menambahkan, album ini disusun agar pendengar dapat menikmati perkembangan musikal Haryanto dari lagu pertama hingga karya terbaru.
“Kalau didengar berurutan, akan terasa evolusi musiknya. Ada lagu religi, lagu cinta, pop, jazz, sampai lagu yang mengajak bergembira.”
Lagu Kehilangan yang Lahir dari Berita Duka
Salah satu lagu paling emosional dalam album ini lahir dari inspirasi yang tidak biasa. Haryanto mengaku sering membaca berita mengenai orang-orang yang meninggal dunia. Dari sanalah muncul ide menulis lagu tentang kehilangan.
“Saya sering membaca berita tentang orang-orang yang meninggal dunia. Dari situ muncul inspirasi membuat lagu tentang kehilangan. Lagu itu menggambarkan perasaan seseorang yang tidak ingin berpisah dengan orang terkasih,” tuturnya.
Baginya, lagu adalah cara terbaik untuk mengabadikan emosi dan pengalaman hidup yang sulit diungkapkan dengan kata-kata biasa.
Inspirasi Datang Tengah Malam
Menariknya, Haryanto Hesaputra mengaku tidak memiliki metode khusus saat menciptakan lagu. Inspirasi bisa datang kapan saja, bahkan saat sebagian besar orang sudah tertidur.
“Kalau inspirasi datang, langsung saya buat. Kadang sampai jam dua pagi masih mengerjakan lagu. Semua mengalir sesuai imajinasi,” katanya.
Ia bahkan menyebut Samarinda sebagai salah satu kota yang sering melahirkan ide-ide baru selama proses kreatifnya.
Video Klip Masih Disiapkan
Meski seluruh konsep visual untuk video klip sudah selesai dirancang, Haryanto memilih fokus terlebih dahulu pada produksi musik.
“Sebenarnya konsep video klip sudah ada. Kami hanya belum memiliki tim yang benar-benar fokus menggarap semuanya. Jadi saat ini kami memilih fokus memproduksi musik terlebih dahulu,” jelasnya.
Ia berharap nantinya setiap video klip mampu memperkuat cerita di balik lagu, bukan hanya menjadi sajian visual semata.
“Never Say Goodbye”, Tribut untuk Glenn Fredly yang Penuh Makna
Salah satu lagu yang paling menyentuh dalam album Berdendang Menari adalah Never Say Goodbye. Lagu ini memiliki kisah emosional karena diciptakan sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum Glenn Fredly, musisi yang selama hidupnya dikenal telah menginspirasi banyak penyanyi dan pencipta lagu di Indonesia.
Haryanto Hesaputra mengungkapkan bahwa lagu tersebut lahir dari rasa kehilangan yang begitu mendalam setelah kepergian Glenn. Bagi Haryanto, sosok Glenn bukan hanya musisi hebat, tetapi juga simbol dedikasi, cinta terhadap musik, dan semangat untuk terus berkarya.
“Lagu Never Say Goodbye kami persembahkan untuk almarhum Glenn Fredly. Kepergiannya meninggalkan duka yang sangat besar bagi dunia musik Indonesia. Lewat lagu ini, kami ingin menyampaikan bahwa karya dan semangat beliau akan selalu hidup di hati para penikmat musik,” ujar Haryanto Hesaputra.
Haryanto & Friends Band Siap Warnai Industri Musik
Peluncuran album Berdendang Menari juga dirayakan lewat konser spesial yang menampilkan Haryanto Hesaputra & Friends Band. Penampilan mereka diperkuat oleh Sagi Antony sebagai Music Director sekaligus bassist, Reza Edo (gitar), Aswin (drum), Mathew (saksofon), dan Felix Virgie (keyboard).
Kolaborasi tersebut menghadirkan warna musikal yang kaya sekaligus mempertegas semangat Haryanto untuk terus berkarya tanpa mengenal batas usia.
“Usia hanyalah angka. Selama Tuhan masih memberi kesehatan, saya ingin terus menciptakan lagu, bernyanyi, dan meninggalkan karya yang bisa dikenang. Saya ingin membuktikan bahwa mimpi tidak mengenal kata terlambat,” tutup Haryanto.
Lewat Berdendang Menari, Haryanto Hesaputra dan Sagi Antony tidak hanya merilis sebuah album, tetapi juga menghadirkan bukti bahwa konsistensi, kolaborasi, dan keberanian mengejar mimpi mampu melahirkan karya yang relevan di tengah industri musik Indonesia yang terus berkembang. (EH0.


