Jakarta – Wongalas band rock setelah melalui perjalanan panjang selama delapan tahun, akhirnya resmi memperkenalkan album perdana mereka bertajuk “Dari Rakjat Oleh Rakjat Oentoek Rakjat” dalam acara peluncuran yang digelar di Dungeon Lounge, Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Album berisi 13 lagu tersebut menjadi penanda keseriusan Wongalas dalam meramaikan industri musik Indonesia. Mengusung warna rock yang kuat, Wongalas tidak hanya menawarkan dentuman musik penuh energi, tetapi juga menyampaikan berbagai persoalan kehidupan melalui lirik-lirik yang lugas dan penuh makna.
Beragam tema diangkat dalam album ini, mulai dari kritik sosial, semangat generasi muda, kecintaan terhadap tanah air dan alam, hingga kisah tentang kemanusiaan.

“Musik bagi kami bukan sekadar hiburan, melainkan wadah untuk berbicara mewakili suara yang selama ini sering tidak didengar. Album ini milik siapa saja yang merasa berjuang, berbagi, dan saling menguatkan,” ujar vokalis Wongalas, Yudith kepada awak media (30/7/2026)
Perjalanan lahirnya album ini bermula pada 2018 saat Yudith bersama gitaris Opick mengasingkan diri ke kawasan Puncak, Bogor. Selama 12 hari, keduanya menciptakan materi lagu di tengah suasana alam terbuka, jauh dari hiruk-pikuk studio rekaman.
Dari sekitar 400 lagu yang telah ditulis Yudith selama bertahun-tahun, hanya 13 lagu yang akhirnya dipilih melalui proses kurasi ketat untuk membentuk identitas album.

“Awalnya ada sekitar 400 lagu. Kami memilih 13 lagu yang paling kuat dan paling mewakili karakter Wongalas. Semua prosesnya berjalan alami karena dikerjakan di luar studio,” kata Yudith.
Sayangnya, album yang sebenarnya telah rampung beberapa tahun lalu itu harus tertunda akibat pandemi COVID-19. Setelah situasi kembali normal, Wongalas menyempurnakan formasi hingga akhirnya menemukan susunan personel yang dianggap paling solid.
Kini Wongalas diperkuat oleh empat nama yang sudah dikenal di dunia musik rock Indonesia, yakni Yudith (eks Jacket Band) sebagai vokalis, Opick (Bayou) di posisi gitar, Atenk (Voodoo) sebagai bassist, serta Firdy (Power Slaves) di balik drum.

Kolaborasi para musisi berpengalaman tersebut melahirkan karakter musik yang memadukan riff gitar agresif, permainan ritme yang kokoh, serta vokal ekspresif. Meski berakar pada musik rock, aransemen lagu-lagunya tetap dibuat mudah dinikmati berbagai kalangan.
Beberapa lagu seperti “Pasal 33”, “Uang”, “Terus Terang Saja (TTS)”, dan “Mentari di NKRI” menjadi representasi tema besar album ini. Meski mengangkat berbagai isu sosial, Wongalas menegaskan karya-karya tersebut bukanlah musik politik, melainkan refleksi atas realitas yang mereka saksikan sehari-hari.
“Kami tidak membuat musik untuk mengikuti tren. Kami membuat musik yang ingin kami mainkan dan yang kami yakini. Soal nanti diterima atau tidak, itu biarkan menjadi penilaian pendengar,” ujar Opick sang gitaris .
Album ini juga mendapat dukungan dari Executive Producer R. Heri Santoso, pendiri organisasi GARDAINDO, yang dinilai berperan penting hingga album akhirnya bisa dirilis secara resmi.
Usai peluncuran album, Wongalas berencana membawa karya mereka ke berbagai kota melalui rangkaian tur nasional. Langkah tersebut menjadi bagian dari misi mereka memperkenalkan album sekaligus menghidupkan kembali semangat musik rock Indonesia yang mengedepankan kekuatan lirik dan musikalitas.
Album “Dari Rakjat Oleh Rakjat Oentoek Rakjat” memuat 13 lagu, yakni Aw Aw Aw, Kebablasan, Salah, Siti Maemunah, Telat Puber, Biarkan Orang Bicara, Pasal 33, Adina, Seniman Gila, Pesta Wongalas, Terus Terang Saja (TTS), Uang, dan Mentari di NKRI.
Bagi Wongalas, album perdana ini bukan sekadar kumpulan lagu, melainkan rekam jejak perjalanan panjang yang berisi kegelisahan, harapan, dan semangat untuk terus menyuarakan realitas kehidupan melalui musik rock yang tetap setia pada jati dirinya.


