Bukan Sekadar Video Lirik, Sigit Wardana Bawa “Oh Tak Mungkin” Jadi Perjalanan Emosional di Tengah Hiruk-Pikuk Kota

Jakarta – Sigit Wardana kembali memperlihatkan sisi personalnya melalui lagu “Oh Tak Mungkin”. Namun kali ini, kekuatan lagu tersebut tidak berhenti pada audio. Sebuah video lirik turut dihadirkan dengan konsep visual yang justru membuat pesan lagu terasa semakin dekat, sepi, sekaligus emosional.

Sekilas, video ini mungkin terlihat sederhana: Sigit Wardana berjalan menyusuri jalanan kota, menunggu transportasi, berada di halte, menyeberang, duduk sendirian hingga akhirnya masuk ke dalam transportasi umum.

Namun semakin diperhatikan, rangkaian adegan dalam video lirik Sigit Wardana tersebut seperti menyimpan sebuah cerita.

Sigit Wardana
Foto: Eny

Sigit Wardana seolah tidak sedang sekadar berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Ia seperti sedang membawa sebuah hubungan yang sudah tidak mungkin kembali seperti sebelumnya. Di sinilah video lirik “Oh Tak Mungkin” menarik untuk dibicarakan.

Ketika Kota Menjadi Cermin Perasaan Sigit

Salah satu keputusan visual paling kuat dalam video ini adalah menjadikan ruang kota sebagai bagian dari cerita.

Sigit Wardana
Foto: Eny

Alih-alih menggunakan latar yang terlalu dramatis, Sigit ditempatkan di tengah aktivitas urban yang sangat familiar: trotoar, jalan raya, halte, jembatan penyeberangan, transportasi umum hingga stasiun.

Kota tetap bergerak. Kendaraan tetap melintas. Orang-orang tetap berjalan. Tetapi Sigit seperti berada dalam ruangnya sendiri.

Kontras inilah yang membuat visualnya terasa emosional. Di tengah keramaian, karakter Sigit justru terlihat sendirian.

Sigit Wardana
Foto: Eny

Ada kesan bahwa dunia terus berjalan sementara seseorang masih tertahan pada perasaan yang belum selesai.

Dan konsep tersebut terasa selaras dengan atmosfer “Oh Tak Mungkin” yang membawa tema tentang hubungan, luka, dan sesuatu yang pada akhirnya tidak bisa dipaksakan untuk kembali.

Angle Kamera yang Membiarkan Sigit “Tenggelam” dalam Kota

Secara visual, video ini tidak selalu menjadikan Sigit sebagai pusat perhatian.

Beberapa shot justru menggunakan wide shot dengan ruang kota yang jauh lebih dominan. Sigit terlihat kecil di antara gedung, kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang.

Pilihan framing seperti ini menarik karena secara tidak langsung membuat karakter Sigit terlihat seperti seseorang yang sedang berhadapan dengan keadaan yang jauh lebih besar daripada dirinya.

Kemudian kamera berpindah ke medium shot ketika mengikuti langkahnya.

Ada pula pengambilan gambar dari belakang dan samping yang membuat penonton seakan-akan ikut berjalan bersama Sigit.

Tidak banyak gerakan kamera yang agresif. Visualnya justru terasa observasional—seperti kamera sedang mengikuti seseorang yang menjalani perjalanan tanpa tahu apakah tujuan akhirnya benar-benar akan membawa jawaban.

Ketika akhirnya kamera mendekat ke wajah Sigit, efek emosionalnya menjadi lebih terasa.

Dari sebelumnya hanya melihat seseorang berjalan, penonton kemudian diajak melihat wajah orang yang sedang menyimpan sesuatu.

Color Grading Abu-Abu, Kenapa Terasa Cocok?

Hal lain yang membuat video ini memiliki karakter adalah color grading-nya.

Dominasi warna abu-abu, sedikit desaturated dan tidak terlalu kontras membuat kota terlihat dingin. Warna gedung, jalan, kendaraan dan langit seolah berada dalam satu palet yang tenang.

Namun di tengah visual yang cenderung dingin tersebut, teks lirik berwarna kuning-oranye tampil cukup mencolok. Pilihan ini bukan sekadar persoalan estetika.

Warna teks menjadi semacam “denyut” di tengah visual yang dingin. Saat kalimat-kalimat dalam lagu muncul di layar, mata penonton otomatis tertarik kepada lirik.

Hasilnya, video tidak terasa seperti footage kota yang kemudian ditempeli tulisan. Lirik justru menjadi bagian dari komposisi gambar. Ini yang membuat konsep visualnya terasa lebih matang.

Sigit Tidak Berusaha Terlalu Banyak Berakting

Menariknya lagi, Sigit Wardana tidak tampil dengan akting yang berlebihan.

Tidak ada gestur menangis berlebihan atau ekspresi patah hati yang sengaja ditonjolkan. Sebaliknya, ia lebih banyak berjalan, menunggu, duduk, memandang sekitar dan menjalani aktivitas seperti orang biasa.

Justru karena itulah emosinya terasa lebih natural.

Ekspresi Sigit beberapa kali terlihat datar atau menahan sesuatu. Tetapi ekspresi tersebut bisa dibaca sebagai seseorang yang sudah memahami bahwa sebuah hubungan mungkin memang harus selesai.

Bukan lagi fase marah. Bukan pula tangisan. Melainkan fase ketika seseorang mulai menerima kenyataan.

Pembacaan ini tentu subjektif, tetapi justru menjadi kekuatan dari video tersebut karena visualnya memberikan ruang kepada penonton untuk menafsirkan sendiri.

Transportasi Umum Jadi Simbol Perjalanan

Bagian ketika Sigit berada di dalam transportasi umum juga menjadi salah satu momen yang menarik.

Di dalam kendaraan, Sigit Wardana berada bersama banyak orang. Tetapi kamera tetap memberikan ruang yang cukup besar kepadanya.

Ada orang-orang lain di sekelilingnya, tetapi secara emosional ia tetap terasa sendirian.

Kemudian terdapat momen ketika Sigit Wardana berada di area transportasi dan berjalan melewati ruang publik. Adegan-adegan tersebut seperti menyambung satu metafora: hidup terus bergerak, dan manusia hanya bisa memilih untuk ikut berjalan atau tertinggal.

Penggunaan lokasi publik juga membuat lagu terasa tidak eksklusif untuk satu cerita cinta tertentu.

Penonton bisa memasukkan pengalaman mereka sendiri ke dalamnya.

Dari Jalanan Kota ke Ruang Rekaman

Menjelang bagian akhir, video kemudian membawa Sigit ke ruang studio rekaman.

Perpindahan ini terasa menarik karena sepanjang video penonton sebelumnya melihat Sigit sebagai seseorang yang sedang menjalani perjalanan di luar.

Kemudian kamera memperlihatkan dirinya di balik mikrofon.

Seolah-olah seluruh perjalanan visual sebelumnya akhirnya kembali kepada sumber utama: lagu itu sendiri.

Sigit Wardana yang sebelumnya terlihat berjalan di tengah kota kemudian terlihat menyanyikan lagu di ruang rekaman.

Secara naratif, transisi ini membuat video terasa seperti sebuah lingkaran. Perjalanan di luar menjadi gambaran visual dari emosi yang kemudian dituangkan Sigit Wardana melalui musik.

Video Lirik yang Tidak Takut Terlihat Sederhana

Di tengah banyaknya video musik yang berlomba menghadirkan konsep besar, “Oh Tak Mungkin” justru memilih pendekatan yang lebih sederhana.

Tidak ada cerita dengan plot rumit. Tidak ada terlalu banyak karakter. Tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang ada adalah Sigit Wardana, kota, perjalanan, lirik dan suasana.

Dan justru kesederhanaan itu yang membuat video ini memiliki ruang untuk bernapas.

Penonton tidak dipaksa memahami satu cerita secara harfiah. Mereka diberi potongan-potongan visual untuk merasakan sendiri apa yang mungkin sedang dialami karakter di dalam lagu.

“Oh Tak Mungkin” Bukan Cuma Tentang Tidak Bisa Kembali

Jika dilihat dari keseluruhan visualnya, judul “Oh Tak Mungkin” terasa semakin memiliki bobot.

Kalimat tersebut tidak hanya terdengar seperti penolakan terhadap sebuah kemungkinan.

Ia bisa dibaca sebagai titik ketika seseorang akhirnya menyadari bahwa tidak semua hal bisa dikembalikan seperti semula.

Dan perjalanan Sigit Wardana di tengah kota menjadi metafora yang cukup kuat untuk menggambarkan kondisi tersebut.

Ia terus berjalan. Kota terus bergerak. Orang-orang datang dan pergi. Sementara sebuah perasaan masih tertinggal di dalam dirinya.

Di situlah video lirik “Oh Tak Mungkin” menemukan kekuatannya. Bukan karena visualnya spektakuler, tetapi karena visual sederhana tersebut berhasil memberi wajah pada kesepian yang ada di balik lagu.

Pada akhirnya, Sigit Wardana tidak membutuhkan adegan yang terlalu dramatis untuk menyampaikan emosi. Cukup dengan langkah kaki, tatapan, ruang kota yang dingin, warna yang muted, serta lirik yang muncul perlahan di layar.

“Oh Tak Mungkin” akhirnya terasa bukan sekadar lagu tentang sebuah hubungan yang tidak bisa kembali, tetapi tentang perjalanan seseorang untuk menerima bahwa ada hal-hal dalam hidup yang memang harus dilepaskan.

 

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img