IMVA 2026 atau Ajang Indonesian Music Video Awards ternyata menyimpan banyak fakta yang belum diketahui publik. Sang penggagas, Oleg Sanchabakhtiar, akhirnya buka-bukaan soal bagaimana kompetisi ini berjalan, siapa saja yang bisa ikut, dan kenapa penjurian IMVA disebut sebagai salah satu yang “paling independen” di Indonesia.
Dalam sesi pertemuan dengan media, Oleg langsung membeberkan bahwa salah satu kategori paling ditunggu di IMVA, Piala SWARADRISYA, dinilai setiap bulan—dan sistemnya tidak pernah berhenti sejak Januari hingga Desember.
“Setiap bulan ada tiga karya yang dipilih dan satu langsung masuk grand final. Tahun 2027 sudah lanjut lagi, jadi ini enggak pernah berhenti,” ungkap Oleg.

Lebih mengejutkan lagi, Indonesian Music Video Awards membuka pintu untuk karya video musik lama, bahkan dari tahun 2005 atau sebelumnya. Namun Oleg menegaskan bahwa kategori tertentu seperti viewer’s choice hanya berlaku untuk karya yang tayang di tahun berjalan agar tetap adil.
Penjurian Indonesian Music Video Awards Ternyata Super Detail: DOP, Editor, Stylist Semua Dinilai Terpisah!
Tidak seperti ajang penghargaan pada umumnya, IMVA menilai video bukan hanya sebagai satu paket jadi. Setiap profesi dalam produksi video musik—mulai dari director of photography hingga stylist—punya ruang apresiasi sendiri.

“Kadang DOP-nya bagus, tapi editing-nya kurang pas. Itu tetap kami hargai. Setiap profesi punya peran dalam mengarahkan hasil akhir,” jelas Oleg.
Untuk karya berbasis AI, peserta bahkan wajib melampirkan prompt. Menurut Oleg, itu menjadi bagian penting dari proses directing.
Bukan Ajang Elite! IMVA Didesain untuk Kreator yang Belum Pernah Dapat Spotlight
Oleg menegaskan bahwa IMVA justru menyasar mereka yang jarang tersentuh ajang besar. Penilaiannya pun melibatkan berbagai kalangan, termasuk pelajar.

“Bahkan tiga pelajar kami hitung sebagai satu suara. Saya ingin regenerasi jalan. Sasaran saya sebenarnya anak SMP,” katanya.
Independen, Anti-Titipan, Anti- ‘Main Mata’
Salah satu pernyataan paling mengejutkan dari Oleg adalah soal integritas penjurian.
“IMVA independen. Enggak ada titipan. Mau ada yang nyogok satu triliun dolar pun, saya bubarin sistemnya dan bikin baru lagi yang independen,” tegasnya.
IMVA Bukan Sekadar Penghargaan – Ini “Warisan Kreatif”
Oleg menyebut IMVA sebagai ruang berbagi, ruang edukasi, sekaligus warisan bagi generasi kreator berikutnya. Ia menjalankan program ini secara konsisten sejak 2013, membangun sistem, mengurus IP, hingga membuka akses pendaftaran gratis.
“Ini dari masyarakat untuk masyarakat. Saya cuma berbagi apa yang saya tau setelah puluhan tahun di industri,” ucapnya.
Ajak Media Ikut Kampanye: “Bantu Sebarkan, Biar yang Belum Tahu Jadi Tahu”
Menutup pertemuan, Oleg berharap media ikut memperluas informasi mengenai IMVA dan mendorong partisipasi lebih luas dari masyarakat.
“Saya berharap teman-teman media membantu supaya yang belum tahu jadi tahu. Semua bisa ikut, semua bisa berkarya,” tutupnya.



