Rony Parulian Buka Babak Baru Lewat “Wals Akhir Zaman”, Sebuah Tarian Cinta di Tengah Dunia yang Runtuh

Jakarta – Rony Parulian resmi membuka fase baru dalam perjalanan bermusiknya melalui single terbaru “Wals Akhir Zaman” yang dirilis di bawah Universal Music Indonesia. Tak hanya menawarkan warna musik yang lebih matang, lagu ini juga menjadi penanda keberanian Rony meninggalkan zona nyaman demi mengeksplorasi lanskap musikal yang lebih sinematik dan alternatif.

Diproduseri oleh Petra Sihombing, dengan proses penulisan bersama Rendy Pandugo, “Wals Akhir Zaman” milik Rony Parulian menghadirkan perpaduan pop-rock, alternative, hingga sentuhan orkestral yang membuatnya terasa seperti soundtrack sebuah film.

Di balik balutan instrumen yang megah, Rony mengajak pendengar menyelami kisah dua insan yang memilih tetap berdansa, bahkan ketika dunia di sekeliling mereka perlahan runtuh.

Rony Parulian

“Lagu ini bukan tentang kiamat secara harfiah, tetapi tentang memilih seseorang untuk tetap dicintai di tengah situasi yang tidak lagi baik-baik saja,” menjadi benang merah yang terasa kuat sepanjang lagu.

Lagu yang Berani Keluar dari Pakem

Dari sisi musikal, “Wals Akhir Zaman” bisa disebut sebagai karya paling ambisius Rony Parulian sejauh ini. Petra Sihombing berhasil membangun atmosfer yang perlahan berkembang; dimulai dengan permainan piano yang intim, kemudian bertumbuh melalui lapisan gitar khas Rendy Pandugo, dentuman drum Enrico Octaviano, hingga aransemen string yang dramatis.

Alih-alih mengejar formula lagu pop yang mudah ditebak, komposisi lagu ini justru bermain dengan dinamika. Pendengar diajak menikmati perjalanan emosional, bukan sekadar menunggu bagian reff. Falsetto Rony terdengar lebih matang, sementara karakter vokalnya tetap menjadi identitas yang kuat di tengah aransemen yang jauh lebih kompleks dibanding karya-karya sebelumnya.

Rony Parulian

Lirik seperti “Sampai tua berdansa wals di antara hancurnya dunia” menjadi kalimat yang mudah diingat sekaligus mengandung metafora yang kuat. Romantis, tetapi menyimpan rasa kehilangan dan ketidakpastian.

Video Musik yang Terasa Seperti Film Pendek

Disutradarai oleh Yogi Kusuma, video musik “Wals Akhir Zaman” menjadi pelengkap yang memperluas semesta cerita lagu ini. Sinematografi yang gelap namun artistik menghadirkan nuansa pasca-apokaliptik tanpa kehilangan sisi romantisnya.

Alih-alih sekadar menampilkan Rony Parulian bernyanyi, video ini membangun narasi visual yang penuh simbol. Adegan berdansa di tengah kehancuran menjadi momen paling ikonik, sementara perpindahan antara suasana horor, ketegangan, hingga romansa membuat video ini terasa seperti film pendek yang dibalut musik.

Rony Parulian

Secara visual, konsep tersebut berhasil mempertegas pesan utama lagu: cinta tidak selalu hadir dalam dunia yang sempurna, tetapi justru menemukan maknanya ketika segala sesuatu terasa rapuh.

Netizen: “Ini Bukan MV, Tapi Film Pendek”

Respons publik sejak penayangan perdana terbilang sangat positif. Kolom komentar YouTube dipenuhi apresiasi terhadap kualitas lagu maupun video musiknya.

Banyak penggemar menyebut karya ini sebagai era baru Rony Parulian.

“MV-nya fresh, sangat cinematic.”

“Lagu dan MV-nya benar-benar sejalan, seperti sedang bercerita.”

“Merinding. Ini bukan MV, tapi film pendek berbalut lagu.”

Banyak pula yang memuji keberanian Rony keluar dari zona nyaman.

“Sesuatu yang berbeda, gokil. Keren.”

“Karakter suara Rony makin kuat dipadukan dengan musik yang lebih dewasa.”

Adegan dansa menjadi bagian yang paling banyak dibicarakan.

“Part dansanya campur aduk, sedih sekaligus romantis.”

“Kalau suatu hari dunia runtuh, semoga masih ada seseorang yang mau tetap berdansa bersama.”

Tak sedikit pula yang mengapresiasi kualitas produksi secara keseluruhan, mulai dari sinematografi, akting Rony, hingga aransemen musik yang dinilai berkelas.

Sebagian penggemar bahkan mengajak sesama pendengar untuk terus melakukan streaming agar video musik tersebut masuk jajaran trending YouTube.

Langkah Baru yang Menjanjikan

“Wals Akhir Zaman” bukan sekadar single baru bagi Rony Parulian. Lagu ini terasa seperti deklarasi arah baru yang lebih berani, lebih artistik, dan lebih personal. Kolaborasi bersama Petra Sihombing dan Rendy Pandugo menghasilkan karya yang tidak hanya enak didengar, tetapi juga memiliki identitas yang kuat.

Jika lagu-lagu sebelumnya memperlihatkan kemampuan vokal Rony sebagai penyanyi pop, maka “Wals Akhir Zaman” menunjukkan bahwa ia mulai membangun semesta musiknya sendiri—lengkap dengan narasi, visual, dan karakter yang semakin matang.

Melihat antusiasme pendengar di hari pertama perilisannya, “Wals Akhir Zaman” berpotensi menjadi salah satu rilisan pop-rock Indonesia yang paling banyak diperbincangkan tahun ini sekaligus membuka ekspektasi tinggi terhadap proyek-proyek Rony Parulian berikutnya. (EH).

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img