Lewat Tari Obah Gerabah, Sanggar Seni Lemah Urip sukses menghadirkan pertunjukan penuh emosi dan energi dalam rangkaian perayaan Hari Tari Sedunia 2026 di Galeri Indonesia Kaya.
Bukan sekadar pertunjukan tari biasa, Tari Obah Gerabah membawa penonton menyelami kehidupan para pengrajin gerabah di Borobudur lewat perpaduan tari tradisional, musik, dan eksplorasi artistik yang unik. Suara denting gerabah yang dijadikan alat musik langsung mencuri perhatian sejak awal pertunjukan dimulai.
Yang paling menarik, penonton tidak hanya duduk menikmati pertunjukan. Mereka juga diajak ikut memainkan alat musik gerabah dan merasakan langsung atmosfer khas kehidupan masyarakat pengrajin yang penuh semangat gotong royong.

Koreografi karya Derra Kartika ini terasa begitu hidup karena menggambarkan proses panjang pembuatan gerabah, mulai dari mengolah tanah hingga menjadi karya bernilai ekonomi bagi masyarakat. Dengan dukungan 13 penampil dari anak-anak hingga dewasa, suasana panggung terasa hangat sekaligus megah.
Tak heran jika Tari Obah Gerabah menjadi salah satu pertunjukan yang paling mencuri perhatian dalam rangkaian perayaan Hari Tari Sedunia tahun ini. Apalagi, konsep pertunjukannya terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari namun tetap dikemas modern dan artistik.

Di balik pertunjukan memukau ini, Sanggar Seni Lemah Urip memang dikenal aktif melestarikan budaya lokal lewat pendidikan seni gratis bagi masyarakat. Mulai dari Sekolah Gerabah, Kelas Tari Gerabah, hingga Kelas Musik Gamelan menjadi cara mereka menjaga tradisi tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Pendiri sanggar, Muhammad Jafar atau Jepe, ingin menunjukkan bahwa gerabah bukan hanya benda kerajinan biasa. Di balik setiap gerabah, ada cerita perjuangan keluarga, budaya, dan identitas masyarakat yang diwariskan lintas generasi.

Lewat Tari Obah Gerabah, tradisi tampil bukan lagi sebagai sesuatu yang kuno, melainkan pengalaman seni yang seru, emosional, dan relevan untuk generasi masa kini.


