137 Siswa SMAN 1 Tunjungan Blora Keracunan MBG, SPPG Sudah 3 Kali Berkasus

Indoseru – Sebanyak 137 siswa SMAN 1 Tunjungan Blora dan seorang guru diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari jumlah tersebut, empat siswa harus dibawa ke rumah sakit berdasarkan rekomendasi tenaga medis.

Kepala SMAN 1 Tunjungan, Yuni Ni’wati, mengatakan data awal dari Dinas Kesehatan mencatat 133 siswa dan satu guru mengalami keluhan. Tiga siswa lainnya tidak masuk sekolah karena diare dan turut diduga mengalami keracunan.

“Dugaannya tadi didata oleh Dinas Kesehatan, siswa ada 133, guru 1, kemudian anak yang tidak hadir karena diare kita juga menduga karena keracunan, 3 orang. Sehingga jumlah total 137,” kata Yuni saat ditemui wartawan di lokasi, Selasa (8/9/2026).

Kasus tersebut diduga berkaitan dengan menu MBG yang disantap para siswa pada Senin (7/9/2026). Keluhan baru disampaikan kepada pihak sekolah pada Selasa.

Gejala yang dilaporkan meliputi lemas, diare, muntah, mual, hingga pusing. Keluhan dialami siswa dari kelas 10, 11, dan 12.

Pihak sekolah kemudian melakukan pendataan setelah menerima laporan dari siswa. Mereka yang mengalami gejala diminta berkumpul di aula sekolah untuk menjalani pemeriksaan dan pendataan.

“Gejala rata rata sama. Awalnya ada keluhan, Waka (wakil kepala sekolah) men-tracing, semua yang bergejala diminta ke aula, kemudian kita melaporkan,” ujar Yuni.

Menu MBG Dibagikan dari SPPG Sukorejo 2

Menu MBG yang diterima SMAN 1 Tunjungan berasal dari SPPG Sukorejo 2. Menurut Yuni, makanan biasanya tiba sekitar pukul 11.00 WIB dan kemudian disantap siswa saat jam istirahat.

Menu yang disantap siswa terdiri atas nasi, ayam, sayuran, tempe, dan buah apel. Salah seorang siswa, Rafa Eka Bagus, mengaku mengalami diare dan mules setelah menyantap makanan tersebut.

“Keluhan diare 2 kali. Malam, pagi nggeh, karena MBG kayaknya. Menu ayam, tempe, sayuran, sama nasi, buahnya apel. Saya nggak pusing, cuma mules saja,” kata Rafa.

Yuni menyebut dugaan keracunan MBG tersebut menjadi kejadian pertama yang dialami sekolahnya.

“Pertama kali pak, sebelumnya nggak pernah terjadi. Dengan kejadian seperti ini anak-anak merasa trauma,” ujarnya.

SMAN 1 Tunjungan sendiri memiliki sekitar 1.180 siswa. Menurut Yuni, kondisi siswa lain di luar 137 orang yang diduga mengalami keracunan dalam keadaan baik.

Empat Siswa Dirujuk ke Rumah Sakit

Dari 137 orang yang diduga mengalami keracunan, empat siswa dibawa ke rumah sakit. Tindakan tersebut dilakukan berdasarkan rekomendasi tenaga medis.

Humas SMAN 1 Tunjungan Blora, Totok, menjelaskan bahwa kasus tersebut mulai diketahui setelah beberapa siswa tidak masuk sekolah karena diare.

“Awalnya ada laporan siswa yang tidak masuk karena diare. Kemudian kami juga mendapati di sekolah itu anak-anak keluar masuk WC,” kata Totok.

Pihak sekolah kemudian berkoordinasi dan mendata siswa yang mengalami gejala. Proses tersebut menghasilkan data 133 siswa dan satu guru yang mengalami keluhan di sekolah.

Tiga siswa lain tidak hadir karena diare. Pihak sekolah turut memasukkan mereka dalam data dugaan keracunan karena mengalami gejala yang serupa.

SPPG Sukorejo 2 Terancam Ditutup Permanen

Wakil Bupati Blora Sri Setyorini mengatakan pemerintah daerah akan merekomendasikan penutupan SPPG Sukorejo 2. Ia juga menjabat sebagai Ketua Satgas Percepatan MBG Blora.

Menurut Sri, SPPG tersebut sebelumnya sudah dua kali mendapat peringatan. Peringatan itu berkaitan dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

“Karena SPPG Sukorejo ini sudah dua kali kita peringatkan, dan ini (kasus dugaan keracunan) yang ketiga, kami mau enggak mau harus mengusulkan tutup,” ujar Sri.

Sri menyatakan penutupan permanen merupakan kewenangan pemerintah pusat. Meski demikian, ia tetap akan mengusulkan agar SPPG Sukorejo 2 ditutup secara permanen.

“Saya usulkan ditutup, permanen, karena sudah tiga kali missed,” katanya.

Sri juga mengaku mendapat informasi bahwa menu MBG dari SPPG Sukorejo 2 yang dikirim ke salah satu sekolah penerima manfaat pada Selasa ditemukan ulat.

“Artinya ini dari kebersihannya saya nilai kurang,” ujar Sri.

Sekolah Belum Memutuskan Menolak MBG

Kasus dugaan keracunan tersebut membuat siswa SMAN 1 Tunjungan mengalami trauma. Namun, pihak sekolah belum mengambil keputusan untuk menolak distribusi MBG.

Yuni mengatakan pihak sekolah akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait untuk menentukan langkah selanjutnya.

“Nanti kita koordinasikan dengan yang terkait, supaya bisa lebih baik,” ujarnya.

Saat ini, pihak sekolah telah mendata siswa dan guru yang mengalami keluhan serta berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan. Kasus tersebut masih disebut sebagai dugaan keracunan MBG.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img