Siswa Mulai Berani Tolak MBG, Trauma Keracunan Jadi Alasan

Indoseru – Siswa mulai berani menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah. Penolakan muncul karena sebagian pelajar masih mengalami trauma setelah insiden dugaan keracunan massal yang dikaitkan dengan program tersebut.

Di SMP Negeri 1 Kabuh, Jombang, Jawa Timur, dan SMAN 1 Lasem, Rembang, Jawa Tengah, siswa menolak menu MBG karena khawatir mengalami kejadian serupa. Desakan penolakan juga muncul di Sleman, Yogyakarta.

Trauma Keracunan Membuat Siswa Menolak MBG

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat penolakan dari pelajar di beberapa wilayah. Mereka mempertanyakan keamanan makanan setelah terjadi insiden keracunan yang melibatkan banyak pelajar.

Penolakan tersebut menunjukkan bahwa persoalan keamanan makanan menjadi salah satu pertimbangan siswa dalam menerima MBG.

Di Jombang dan Rembang, siswa memilih menolak jatah makanan MBG karena masih merasa takut terhadap risiko keracunan. Mereka tidak ingin pengalaman yang berkaitan dengan insiden sebelumnya kembali terjadi.

Ribuan Pelajar Papua Tuntut Pendidikan Gratis

Penolakan MBG juga terjadi dengan alasan berbeda di Papua dan Paniai.

Ribuan pelajar menggelar aksi unjuk rasa dan menolak program MBG. Mereka menilai pemerintah perlu lebih memprioritaskan kebutuhan pendidikan yang mereka anggap mendesak.

Pelajar menyuarakan kebutuhan terhadap fasilitas sekolah, beasiswa, layanan kesehatan, dan pendidikan gratis.

Bagi mereka, kebutuhan tersebut menjadi persoalan penting yang perlu mendapat perhatian dalam penyelenggaraan pendidikan.

Sekolah Swasta di Palembang Pilih Menolak

Penolakan MBG juga datang dari sejumlah sekolah swasta besar di Palembang.

Sekolah-sekolah tersebut memilih tidak mengikuti program karena menyatakan kebutuhan gizi siswa di lingkungan sekolah sudah tercukupi melalui fasilitas dan pengelolaan yang mereka miliki.

Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan tidak ada pemaksaan terhadap sekolah untuk menerima program MBG.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sekolah memiliki pilihan untuk menerima atau menolak pelaksanaan program sesuai kondisi masing-masing.

Korban Dugaan Keracunan MBG Capai Puluhan Ribu

Persoalan keracunan menjadi salah satu alasan yang mendorong penolakan MBG di sejumlah daerah.

Berdasarkan data surveilans dan pemantauan hingga awal September 2026, jumlah korban dugaan keracunan yang berkaitan dengan program MBG tercatat dalam kisaran 43.838 hingga 50.059 orang, bergantung pada lembaga yang mencatat dan sumber data yang digunakan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat jumlah korban keracunan makanan mencapai 50.059 orang per 2 September 2026.

Kemenkes juga melaporkan terdapat 560 insiden keracunan masif yang tersebar di 36 provinsi dan 245 kabupaten/kota di Indonesia.

Data tersebut menjadi bagian dari sorotan terhadap pelaksanaan program MBG, terutama terkait keamanan makanan yang diterima para siswa.

Penolakan MBG Makin Terlihat

Rangkaian penolakan di Jombang, Rembang, Sleman, Papua, Paniai, dan sejumlah sekolah swasta di Palembang menunjukkan adanya alasan yang berbeda di setiap daerah.

Sebagian siswa menolak karena trauma terhadap keracunan. Sebagian pelajar menuntut prioritas pendidikan seperti fasilitas sekolah, beasiswa, kesehatan, dan pendidikan gratis. Sementara itu, sejumlah sekolah swasta menyatakan kebutuhan gizi siswanya telah terpenuhi.

Di tengah penolakan tersebut, BGN menyatakan sekolah tidak dipaksa menerima MBG.

Persoalan keamanan makanan dan kebutuhan pendidikan kini menjadi dua alasan yang muncul dalam penolakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img