Kasus Keracunan MBG Karo Naik Penyidikan, 353 Siswa Jadi Korban

Indoseru – Kasus keracunan MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, memasuki tahap baru. Polres Karo meningkatkan pengusutan kasus yang menimpa ratusan siswa di Berastagi dari penyelidikan menjadi penyidikan setelah menemukan dugaan tindak pidana.

Kasi Humas Polres Karo AKP Pedoman Maha membenarkan peningkatan status tersebut pada Jumat, 11 September 2026.

“Benar, sudah naik sidik,” kata Pedoman Maha.

Penyidik Polres Karo juga telah memeriksa sejumlah saksi. Mereka terdiri dari guru, murid, dan dokter rumah sakit yang menangani siswa setelah mengalami gangguan kesehatan.

Pedoman Maha mengatakan penyidik akan melakukan gelar perkara lanjutan setelah pemeriksaan saksi dan kebutuhan penyidikan dinilai lengkap.

“Saksi-saksi sudah diperiksa, seperti guru, murid, dokter RS yang menangani. Mungkin kalau sudah lengkap akan digelar perkara,” ujarnya.

353 Siswa Jadi Korban Keracunan MBG

Kasus keracunan MBG di Berastagi terjadi setelah para siswa menyantap makanan pada 13 Agustus 2026.

Sebanyak 353 siswa mengalami sejumlah gejala. Keluhan yang muncul antara lain mual, muntah, dan pusing.

Sebagian korban harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Beberapa siswa bahkan dirujuk ke rumah sakit di Medan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Kasus tersebut juga berdampak pada sejumlah siswa yang sebelumnya telah dinyatakan pulih.

Salah satunya adalah Febiona br Purba, siswi SMK Swasta Bersama. Setelah sempat dinyatakan pulih, Febiona mengalami gangguan ingatan dan kesulitan berbicara.

Kondisinya juga disertai kejang. Febiona kemudian menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.

Ia sempat mendapatkan perawatan di RSU Kabanjahe, RS Efarina Berastagi, RS Umum Haji Medan, hingga RSUP H Adam Malik.

Setelah pulang dari rumah sakit, Febiona kembali mengalami kejang sehingga harus kembali mendapatkan perawatan.

15 Siswa Karo Kembali Dirawat

Kasus keracunan MBG di Karo masih mendapat pemantauan Dinas Kesehatan Sumatera Utara.

Kadinkes Sumut Faisal Hasrimy mengatakan, sebanyak 15 siswa Kabupaten Karo kembali menjalani perawatan di rumah sakit.

Sebelumnya, para siswa tersebut sempat dinyatakan sembuh. Namun, mereka kembali mengalami keluhan dan harus menjalani rawat inap.

Keluhan yang paling banyak dirasakan berupa nyeri pada bagian perut.

“Kami mendapatkan informasi, masih ada 15 siswa yang dirawat di rumah sakit. Dominan keluhan nyeri perut. (Mereka) rawat inap,” kata Faisal pada Kamis, 10 September 2026.

Faisal mengatakan seluruh siswa Karo yang terdampak keracunan MBG masih berada dalam pemantauan.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis para siswa.

Gubernur Sumut Bobby Nasution mengarahkan Dinas Perlindungan Anak untuk melakukan asesmen dan pendampingan kepada siswa yang terdampak.

Pendampingan tersebut mencakup kondisi psikologis siswa setelah mengalami keracunan.

“Artinya psikosomatiknya, ini yang dilakukan pendampingan. Sehingga psikis dari anak pelan-pelan bisa menjadi lebih baik,” ujar Faisal.

Dinkes Kabupaten Karo juga menyiapkan call center untuk menerima pengaduan dari siswa korban keracunan MBG yang masih mengalami keluhan.

Makanan Berasal dari Dapur SPPG

Sebelumnya, Kapendam I Bukit Barisan Kolonel Infanteri Sandy menjelaskan bahwa makanan MBG yang dikonsumsi para siswa berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG di area Kodim 0205 Tanah Karo.

Dapur tersebut dikelola Yayasan Manunggal Kartika Jaya atau MKJ, Kodim 0205/Tanah Karo.

“Yang kelola adalah SPPG Yayasan Manunggal Kartika Jaya Kodim 0205/TK,” kata Sandy pada 15 Agustus 2026.

Sandy juga menyampaikan bahwa penanganan kasus tersebut dilakukan Kodim 0205 Karo bersama Pemerintah Kabupaten Karo.

SPPG Karo Berastagi Sempajaya diketahui menyalurkan menu MBG ke sejumlah sekolah.

Lima Sekolah Terdampak

Kasus keracunan MBG tersebut berkaitan dengan lima sekolah di wilayah Karo.

Sekolah yang disebut dalam penanganan kasus ini yaitu:

  1. SMAN 1 Berastagi
  2. SMA Swasta Bersama
  3. SMK Swasta Bersama
  4. SMP Swasta Bersama
  5. SMP Negeri 3 Kabanjahe

Hasil investigasi Badan Gizi Nasional atau BGN bersama Dinkes Sumut menemukan adanya pelanggaran dalam pengelolaan SPPG.

Salah satu temuan berkaitan dengan pengawasan penyimpanan bahan baku. Ikan yang akan digunakan sebagai lauk ditemukan disimpan di luar freezer.

Atas temuan tersebut, SPPG mendapat sanksi penutupan. SPPG tersebut tidak dapat melakukan pelayanan.

Kepala SPPG juga dicopot dari jabatannya dan dikenakan sanksi disiplin.

Kepala BGN Sumut Dicopot

Perkembangan lain muncul dari internal BGN Sumut.

Kepala BGN Sumut Agung T Kurniawan dicopot dari jabatannya. Pencopotan tersebut dilakukan per 31 Agustus 2026.

Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi atau KPPG Wilayah Medan Donal Simanjuntak membenarkan pergantian tersebut pada 8 September 2026.

“Sudah tergantikan. Keputusannya per 31 Agustus kemarin,” kata Donal.

Donal tidak menjelaskan alasan pencopotan Agung T Kurniawan.

Posisi Kepala BGN Sumut kemudian diisi Yoga Arizanto.

“Diganti oleh Yoga Arizanto,” ujar Donal.

Sebelum menjabat sebagai Kepala BGN Sumut, Yoga Arizanto merupakan Koordinator Wilayah BGN Kabupaten Deliserdang.

Polisi Dalami Dugaan Tindak Pidana

Peningkatan kasus keracunan MBG Karo ke tahap penyidikan menjadi perkembangan penting dalam pengusutan peristiwa tersebut.

Polres Karo kini tidak lagi berada pada tahap penyelidikan. Penyidik telah menemukan dugaan tindak pidana dan mulai melakukan proses penyidikan.

Pemeriksaan terhadap guru, murid, dan dokter menjadi bagian dari proses tersebut.

Penyidik selanjutnya akan melanjutkan proses sesuai hasil pemeriksaan dan melakukan gelar perkara setelah kebutuhan penyidikan dianggap lengkap.

Sementara itu, penanganan terhadap para siswa yang masih mengalami keluhan terus dilakukan. Pemerintah juga memberikan pendampingan kepada korban, termasuk melalui layanan kesehatan dan pendampingan psikologis.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img