Indoseru – Ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II-2026 dan mencapai 5,45 persen sepanjang semester pertama 2026. Namun, pertumbuhan tersebut belum otomatis membuat masyarakat lebih mudah mendapatkan pekerjaan formal dengan penghasilan dan perlindungan yang layak.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sebanyak 148,19 juta orang bekerja pada Mei 2026. Tingkat pengangguran terbuka berada di angka 4,65 persen.
Angka tersebut menunjukkan kondisi pasar kerja secara umum masih bergerak positif. Namun, terdapat persoalan lain yang tidak terlihat hanya dari angka pengangguran.
Sekitar enam dari 10 pekerja Indonesia masih bekerja di sektor informal. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan tenaga kerja Indonesia bukan sekadar jumlah pekerjaan yang tersedia, tetapi juga kualitas pekerjaan yang tersedia.
Ekonomi Tumbuh, Pekerjaan Berkualitas Belum Mengikuti
Seseorang dapat masuk dalam kategori bekerja meski pendapatannya tidak stabil. Ia juga bisa tidak memiliki perlindungan sosial yang memadai, jenjang karier, atau kepastian penghasilan.
Ojek daring, usaha mikro, perdagangan kecil, pekerjaan lepas, dan berbagai aktivitas informal menjadi sumber penghasilan bagi banyak masyarakat. Sektor tersebut juga berfungsi sebagai bantalan ketika masyarakat kesulitan memperoleh pekerjaan formal.
Namun, kondisi informal tidak ideal jika berlangsung secara permanen bagi sebagian besar tenaga kerja.
Perbedaan ini dapat dilihat dari konsep having a job dan having a good job. Memiliki pekerjaan berarti seseorang memperoleh aktivitas ekonomi dan penghasilan. Sementara pekerjaan yang baik memberikan produktivitas lebih tinggi, pendapatan yang layak, perlindungan, serta peluang untuk berkembang.
Karena itu, keberhasilan pembangunan ekonomi perlu dilihat lebih jauh daripada sekadar jumlah orang yang bekerja.
AI dan Otomatisasi Mengubah Pasar Kerja
Perubahan teknologi membuat persoalan tersebut semakin kompleks.
Kecerdasan buatan atau AI, robotika, otomatisasi, machine learning, dan digitalisasi memungkinkan perusahaan menghasilkan lebih banyak barang dan jasa dengan jumlah pekerja yang lebih sedikit.
Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan puluhan orang dalam proses tertentu dapat dilakukan oleh beberapa pekerja dengan bantuan teknologi.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan produktivitas. Perusahaan mampu menghasilkan output lebih besar dengan biaya tenaga kerja yang lebih rendah.
Dampaknya, hubungan antara investasi dan penciptaan pekerjaan tidak lagi sesederhana sebelumnya.
Investasi tetap dapat meningkatkan kapasitas produksi. Namun, investasi tersebut belum tentu menciptakan pekerjaan dalam jumlah yang sebanding dengan nilai modal yang masuk.
Teknologi tidak menghentikan pertumbuhan ekonomi. Teknologi justru dapat mempercepat pertumbuhan. Persoalannya terletak pada bagaimana peningkatan produktivitas tersebut diterjemahkan menjadi kesempatan kerja.
Indonesia Tidak Bisa Memilih Teknologi atau Tenaga Kerja
Menolak AI, robot, dan otomatisasi bukan solusi. Industri Indonesia tetap harus menggunakan teknologi agar mampu bersaing.
Masalahnya muncul jika transformasi teknologi hanya memberikan manfaat besar kepada pemilik modal dan pekerja dengan keterampilan tinggi.
Sementara itu, pekerja dengan keterampilan rendah dapat terdorong ke pekerjaan informal atau pekerjaan dengan produktivitas rendah.
World Bank sebelumnya mengingatkan bahwa penciptaan pekerjaan di Indonesia masih banyak terjadi pada aktivitas dengan nilai tambah rendah. Pekerjaan berproduktivitas tinggi dan pekerjaan dengan upah kelas menengah berkembang lebih lambat.
Karena itu, Indonesia membutuhkan strategi yang menggabungkan teknologi dengan penciptaan pekerjaan berkualitas.
Investasi Jangan Hanya Diukur dari Nilainya
Realisasi investasi memang penting bagi perekonomian. Namun, nilai investasi saja belum cukup untuk mengukur keberhasilannya.
Setiap investasi besar perlu dilihat dari dampaknya terhadap pasar kerja.
Pertanyaan yang perlu diajukan antara lain:
- Berapa pekerjaan berkualitas yang tercipta?
- Berapa besar upah yang dibayarkan?
- Berapa pekerja lokal yang mendapatkan pelatihan?
- Berapa pemasok domestik yang ikut berkembang?
- Seberapa besar transfer teknologi kepada tenaga kerja dan industri nasional?
Pendekatan tersebut dapat melahirkan ukuran seperti Rasio Konversi Investasi menjadi Pekerjaan Berkualitas.
Dengan ukuran itu, investasi tidak hanya dinilai dari jumlah rupiah yang masuk. Pemerintah juga dapat melihat perubahan ekonomi yang muncul setelah investasi berjalan.
Indonesia Tetap Membutuhkan Industri Padat Karya
Tidak semua investasi harus menggunakan banyak tenaga kerja.
Pusat data, smelter modern, industri kimia, semikonduktor, dan industri strategis lainnya membutuhkan modal besar. Sebagian di antaranya memang dapat beroperasi dengan jumlah pekerja yang relatif terbatas.
Indonesia tetap membutuhkan investasi tersebut.
Namun, struktur investasi nasional juga perlu memberikan ruang bagi sektor dengan kemampuan menciptakan banyak pekerjaan.
Sektor tersebut mencakup agroindustri, makanan dan minuman, tekstil dan alas kaki yang naik kelas, elektronik, furnitur, produk kesehatan, industri kreatif, pariwisata berkualitas, serta berbagai jasa modern.
Strateginya bukan memilih industri padat modal atau padat karya. Indonesia perlu membangun industri dengan produktivitas tinggi sekaligus mampu menciptakan banyak pekerjaan.
Reindustrialisasi Bisa Memperluas Lapangan Kerja
Manufaktur memiliki efek ekonomi yang lebih luas daripada aktivitas di dalam pabrik.
Satu kegiatan manufaktur dapat menciptakan kebutuhan terhadap bahan baku, kemasan, transportasi, pergudangan, perawatan mesin, desain, teknologi informasi, jasa keuangan, hingga kegiatan ekspor.
Artinya, lapangan kerja dapat tumbuh di sepanjang rantai pasok.
Indonesia membutuhkan industrialisasi generasi baru. Industri harus menggunakan teknologi modern, tetapi tetap membangun rantai pasok domestik.
Semakin banyak proses produksi dan nilai tambah berlangsung di dalam negeri, semakin besar peluang terciptanya pekerjaan di berbagai sektor pendukung.
Pendidikan Harus Mengikuti Perubahan Teknologi
Kebijakan industri tidak akan cukup tanpa perubahan dalam pengembangan sumber daya manusia.
Persaingan tenaga kerja kini berubah. Seorang pekerja Indonesia tidak hanya bersaing dengan pekerja dari negara lain.
Ia juga bersaing dengan pekerja yang mampu menggunakan AI, mesin otomatis, dan berbagai perangkat digital untuk menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat.
Persaingan juga tidak selalu ditentukan oleh gelar pendidikan.
Seseorang tanpa gelar tinggi dapat mengembangkan keterampilan melalui platform digital, menguasai AI, membangun portofolio, dan mempelajari keterampilan baru secara mandiri.
Gelar tetap memiliki nilai. Namun, kemampuan untuk terus belajar semakin penting.
Dari Education Menuju Lifelong Employability
Investasi pendidikan perlu diperluas dari konsep education menuju lifelong employability.
Indonesia telah memiliki Dana Abadi Pendidikan untuk mendukung pendidikan tinggi. Di sisi lain, pekerja juga membutuhkan sistem yang memungkinkan mereka meningkatkan keterampilan sepanjang kehidupan kerja.
Salah satu gagasannya adalah rekening keterampilan yang dapat digunakan pekerja untuk mengikuti pelatihan dan sertifikasi.
Pekerja dapat menggunakan fasilitas tersebut untuk mempelajari AI, otomatisasi, bahasa, teknik produksi, pemasaran digital, atau keterampilan lain yang dibutuhkan pasar.
Pemerintah, perusahaan, dan pekerja dapat berkontribusi dalam sistem tersebut.
Dengan pendekatan itu, perlindungan tenaga kerja tidak hanya berusaha mempertahankan pekerjaan lama. Perlindungan juga membantu pekerja memperoleh pekerjaan baru ketika teknologi mengubah kebutuhan industri.
Pekerjaan Berkualitas Juga Menyangkut Masa Depan Anak Muda
Pekerjaan memiliki fungsi sosial yang lebih luas daripada penghasilan.
Pekerjaan memberikan struktur kehidupan, kesempatan berkontribusi, jaringan sosial, harga diri, dan harapan terhadap masa depan.
Karena itu, tingginya jumlah anak muda tanpa akses terhadap pekerjaan berkualitas dapat menimbulkan persoalan sosial.
Bonus demografi hanya menjadi keuntungan jika Indonesia mampu menyediakan pendidikan, keterampilan, produktivitas, dan kesempatan kerja.
Tanpa hal tersebut, pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif dapat berubah menjadi tekanan sosial.
Ukuran Keberhasilan Ekonomi Harus Berubah
Pertumbuhan ekonomi tetap penting. Investasi juga tetap diperlukan. Tingkat pengangguran juga harus diperhatikan.
Namun, indikator tersebut perlu dilengkapi dengan ukuran kualitas pekerjaan.
Pertanyaan yang perlu dijawab adalah berapa banyak masyarakat yang naik kelas karena pertumbuhan ekonomi.
Berapa banyak pekerja informal yang masuk ke sektor formal?
Berapa banyak pekerja berupah rendah yang berpindah ke pekerjaan dengan produktivitas lebih tinggi?
Berapa banyak anak muda yang mendapatkan pekerjaan pertama dengan peluang karier yang jelas?
Pertanyaan tersebut memberikan gambaran yang lebih dekat dengan pengalaman masyarakat.
Growth with Good Jobs
Teknologi akan terus berkembang. Indonesia tidak dapat mempertahankan semua pekerjaan lama ketika struktur ekonomi berubah.
Tantangannya adalah menciptakan pekerjaan baru yang lebih produktif daripada pekerjaan yang hilang.
Karena itu, ukuran keberhasilan ekonomi Indonesia di era AI tidak cukup hanya menggunakan indikator growth. Indonesia membutuhkan growth with good jobs, yaitu pertumbuhan ekonomi yang menghasilkan pekerjaan berkualitas.
Ekonomi memang harus tumbuh. Namun, pertumbuhan memiliki dampak yang lebih berarti ketika masyarakat semakin mudah mendapatkan pekerjaan produktif, penghasilan layak, perlindungan, kesempatan meningkatkan keterampilan, dan peluang untuk naik kelas.
Jika ekonomi Indonesia terus tumbuh tetapi pekerjaan berkualitas tetap sulit diperoleh, persoalannya perlu dicari pada cara pertumbuhan tersebut menciptakan manfaat bagi tenaga kerja.


