Indoseru – Purbaya Yudhi Sadewa dicopot dari posisi Menteri Keuangan dalam reshuffle kabinet pada Senin, 14 September. Kursi Menteri Keuangan kemudian beralih kepada Suahasil Nazara.
Pergantian mendadak tersebut memunculkan dugaan mengenai alasan di balik pencopotan Purbaya. Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menilai benturan kepentingan politik dan sikap Purbaya terhadap alokasi anggaran sejumlah program pemerintah menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Menurut Ibrahim, pencopotan Purbaya dapat menjadi akumulasi dari berbagai persoalan yang muncul selama menjalankan tugas sebagai Menteri Keuangan.
Purbaya Yudhi Sadewa Disebut Terlalu Tegas Membenahi Kementerian Keuangan
Ibrahim menilai Purbaya selama menjabat Menteri Keuangan konsisten melakukan pembenahan di lingkungan Kementerian Keuangan.
Langkah tersebut mencakup pembenahan di Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Pajak, serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai.
Kebijakan bersih-bersih tersebut, menurut Ibrahim, berpotensi menimbulkan resistensi dari pihak-pihak yang merasa terganggu.
Ia menduga resistensi tersebut kemudian berkembang menjadi persoalan politik yang ikut memengaruhi posisi Purbaya.
“Mungkin ini yang menjadi sebab utama kepentingan-kepentingan politik ini yang mempengaruhi Purbaya ini dicopot,” kata Ibrahim dalam pesan suara, Senin, 14 September.
Ibrahim juga menyebut kemungkinan adanya pihak dari partai politik yang merasa kepentingannya terganggu.
“Ya, bisa saja ini banyak sekali musuhnya ya, terutama orang-orang dari partai politik, titipan-titipan dari partai politik, ya sangat wajarlah,” ujarnya.
Kritik Anggaran MBG Ikut Disorot
Selain dugaan resistensi politik, Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya sempat menyuarakan kritik terhadap besaran anggaran program Makan Bergizi Gratis atau MBG.
Purbaya juga menyoroti anggaran Koperasi Merah Putih. Ia mengusulkan agar alokasi untuk kedua program tersebut ditekan di bawah Rp200 triliun.
Langkah itu berkaitan dengan upaya menjaga defisit anggaran pemerintah.
Ibrahim menduga usulan efisiensi anggaran tersebut menimbulkan kritik dari pihak pemerintah yang mendukung keberlanjutan alokasi dana untuk program MBG.
Kondisi tersebut kemudian menjadi salah satu faktor yang dinilai dapat memperbesar tekanan terhadap Purbaya sebagai Menteri Keuangan.
Target Defisit Anggaran Sempat Berubah
Di tengah polemik mengenai anggaran, Purbaya juga melakukan penyesuaian terhadap anggaran semester kedua.
Dalam penyesuaian tersebut, target defisit anggaran dinaikkan dari 2,68 persen menjadi 2,86 persen.
Asumsi harga minyak mentah juga berubah dari 70 menjadi 80.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari dinamika kebijakan fiskal pemerintah ketika Purbaya masih menjabat Menteri Keuangan.
Pergantian Mendadak Bisa Pengaruhi Pasar
Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa secara mendadak juga dinilai dapat memengaruhi persepsi investor.
Ibrahim menyebut investor asing dapat mempertanyakan kesinambungan kebijakan fiskal pemerintah setelah terjadi pergantian Menteri Keuangan.
Menurutnya, perubahan posisi Menteri Keuangan secara tiba-tiba dapat menimbulkan kekhawatiran mengenai arah kebijakan anggaran pemerintah ke depan.
“Pergantian menteri keuangan secara mendadak dari Purbaya Yudhi Sadewa memicu kekhawatiran pelaku pasar ya, dari investor asing mengenai kesinambungan kebijakan anggaran pemerintah ke depan,” kata Ibrahim.
Dampaknya diperkirakan dapat terlihat pada perdagangan pasar keuangan berikutnya.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG berpotensi mendapat tekanan. Nilai tukar rupiah juga diprediksi dapat terpengaruh pada pembukaan perdagangan besok pagi.
Dengan demikian, pencopotan Purbaya tidak hanya menjadi perubahan posisi dalam kabinet. Pergantian tersebut juga menimbulkan perhatian terhadap arah kebijakan fiskal, pengelolaan anggaran, serta respons investor terhadap kebijakan pemerintah selanjutnya.


