JAKARTA — Film Khadam baru saja menggelar premiere di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Senin (14/9). Kehadiran para sineas, pemain, kritikus, dan pencinta film horor dalam pemutaran perdana tersebut menjadi penanda bahwa Khadam siap membawa mitologi horor serumpun ke level yang lebih gelap dan personal.
Diproduksi oleh Red Communications dan Komet Productions dari Malaysia bersama MAGMA Entertainment dan VMS Studio dari Indonesia, Khadam disutradarai Shamyl Othman dengan skenario karya Fariza Azlina.
Premiere Khadam turut dihadiri produser Ayu Amirrol, produser eksekutif sekaligus produser Ahmad Izham Omar dan Lina Tan, serta pemeran utama Aghniny Haque. Dari Indonesia, hadir pula produser eksekutif Charles Gozali dari MAGMA Entertainment dan Tony Ramesh dari VMS Studio.

Khadam vs Kodam, Apa Bedanya?
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, istilah kodam kerap dikaitkan dengan sosok gaib yang berfungsi sebagai penjaga atau pendamping spiritual. Namun, film ini menawarkan interpretasi yang jauh lebih mengerikan.
Berangkat dari folklor kepercayaan Saka di Malaysia, Khadam memperkenalkan sosok entitas warisan gaib yang tidak selamanya tunduk kepada manusia. Justru sebaliknya, ketika sang pemilik menunjukkan kelemahan, entitas tersebut dapat mengambil kendali dan mengubah hubungan antara manusia dan penjaganya menjadi sebuah mimpi buruk.
Dengan tagline “Jangan Sampai Jadi Tuan”, film Khadam memainkan ketakutan tentang sebuah warisan yang seharusnya menjadi pelindung, tetapi justru dapat menghancurkan kehidupan orang yang memilikinya.

Inilah yang membuat film ini tidak sekadar menjual kemunculan sosok menyeramkan. Film ini mencoba membangun horor dari hubungan antara keluarga, kehilangan, identitas, dan ancaman terhadap orang-orang yang paling dicintai.
Aghniny Haque Jadi Ibu Tunawicara yang Diburu Entitas Gaib
Salah satu daya tarik utama film ini adalah penampilan Aghniny Haque sebagai Melor.
Melor merupakan seorang ibu tunawicara yang hidup terisolasi di tengah hutan bersama kedua anaknya. Kehidupannya berubah drastis setelah sang ibu meninggal dunia dan meninggalkan warisan berupa sesosok Khadam.

Masalahnya, warisan tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan begitu saja.
Teror semakin intens ketika entitas tersebut mulai mengambil wujud yang menyerupai Melor. Sosok itu bahkan perlahan berusaha merebut perhatian anak-anak Melor sekaligus mengambil alih posisinya di dalam keluarga.
Tanpa kemampuan berbicara, Melor harus menggunakan bahasa isyarat, naluri keibuan, dan kekuatan fisiknya untuk melawan ancaman tersebut.
Situasi inilah yang membuat horor film ini terasa lebih personal. Bukan hanya soal bagaimana manusia menghadapi makhluk gaib, tetapi juga perjuangan seorang ibu mempertahankan keluarganya ketika identitasnya sendiri mulai dirampas.
Khadam Sudah Raup Lebih dari USD 1,3 Juta di Malaysia
Sebelum hadir di bioskop Indonesia, film ini telah lebih dulu menunjukkan performanya di pasar regional.
Film ini tayang di Malaysia sejak 11 Juni 2026 dan dilaporkan telah meraih pendapatan box office lebih dari USD 1,3 juta. Setelah Malaysia, film ini juga menyambangi bioskop di Kamboja dan Singapura.
Perjalanan internasional film ini belum berhenti. Khadam juga dijadwalkan tayang di Hong Kong dan Macau pada Oktober 2026.
Respons penonton terhadap film ini pun ikut menjadi perhatian. Sejumlah ulasan di Letterboxd memberikan apresiasi terhadap atmosfer film, pendekatan horornya, hingga perpaduan antara ketegangan dan drama emosional.
Alih-alih semata-mata mengandalkan jumpscare, film ini membangun rasa tidak nyaman melalui atmosfer dan ancaman yang perlahan semakin dekat dengan karakter utamanya.
Kolaborasi Malaysia-Indonesia di Balik Teror Khadam
Tidak hanya menawarkan cerita horor, film ini juga menjadi salah satu contoh kolaborasi perfilman Malaysia dan Indonesia.
Proyek ini turut mendapat dukungan dari Sil-Metropole Organisation dari Hong Kong/China, Applause Entertainment dari India, serta Golden Screen Cinemas dan Primeworks Studios dari Malaysia.
Founder Komet Productions sekaligus Produser Eksekutif & Produser, Ahmad Izham Omar, mengungkapkan kebanggaannya membawa film ini ke Indonesia.
“Kami sangat beruntung bisa bekerja sama dengan teman-teman dari Indonesia dalam Khadam. Cerita film ini adalah cerita yang universal dan bisa dinikmati siapa saja.”
Sementara itu, Produser Eksekutif MAGMA Entertainment Charles Gozali menilai kolaborasi lintas negara seperti Khadam penting bagi perkembangan industri perfilman.
Menurutnya, sinergi antara sineas dari berbagai negara dapat membuka peluang lahirnya karya-karya horor yang lebih segar dan berani.
Datuk Remy Ishak hingga June Lojong Perkuat Khadam
Selain Aghniny Haque, jajaran pemain Khadam juga diperkuat sejumlah aktor dan aktris Malaysia.
Mereka di antaranya Datuk Remy Ishak sebagai Awang, Siti Khadijah Halim, Zarra Zaff, Karl El, serta aktris senior dan peraih penghargaan June Lojong.
Kombinasi pemain dari Malaysia dan Indonesia tersebut semakin mempertegas identitas Khadam sebagai film horor kolaborasi regional.
Siap Teror Bioskop Indonesia 16 September
Dengan mitologi tentang entitas penjaga, konflik keluarga, perjuangan seorang ibu, serta atmosfer horor yang dibangun secara bertahap, Khadam menawarkan pengalaman yang tidak berhenti pada pertanyaan tentang “apa yang menyeramkan?”, tetapi juga “siapa sebenarnya yang menjadi tuan?”
Setelah mencuri perhatian di sejumlah pasar Asia Tenggara, kini giliran penonton Indonesia menghadapi teror.
Film ini tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 16 September 2026. Jadi, masih berani menerima warisan seorang Khadam?


