Abah Iwan Abdulrahman Bawa Musik Api Unggun ke Jakarta, Bukan Sekadar Hiburan tapi Ajakan Berbagi Kisah

JAKARTA — Bagi Abah Iwan Abdulrahman musik tidak selalu hadir hanya untuk menghibur, musik bisa menjadi ruang untuk berbagi kisah, menyampaikan pengalaman hidup, sekaligus mengajak orang kembali mengingat pentingnya alam dan kebaikan.

Semangat itulah yang menjadi dasar hadirnya sebuah perjumpaan musik yang membawa konsep musik api unggun Abah Iwan Abdulrahman dari alam terbuka ke dalam sebuah ruang pertunjukan di Jakarta.

Ide tersebut berawal dari sebuah pertemuan yang mempertemukan Abah Iwan Abdulrahman dengan Dimas Wahab. Keduanya diketahui sudah seumuran dan pernah bermain musik bersama di Bandung.

Abah Iwan Abdulrahman
Foto: Istimewa

Dalam pertemuan itu, muncul ajakan sederhana dari Dimas Wahab kepada Abah Iwan.

“Wan, lu nyanyi dong. Ini lagunya bagus banget semua,” demikian cerita mengenai awal mula gagasan tersebut.

Dari pertemuan itu, konsep kemudian berkembang hingga mempertemukan mereka dengan sejumlah pihak yang terlibat dalam acara tersebut.

Abah Iwan Abdulrahman
Foto:Istimewa

Dari Api Unggun ke Ruang Pertunjukan

Selama ini, Abah Iwan Abdulrahman dikenal dengan tradisi membawakan lagu-lagu gubahannya di alam, khususnya dalam suasana api unggun.

Formatnya pun bukan sekadar bernyanyi. Abah Iwan biasanya menyanyikan lagu, kemudian bercerita, lalu kembali bernyanyi. Suasana tersebut menciptakan komunikasi yang dekat antara musisi dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Konsep itulah yang kini dibawa ke Jakarta.

Abah Iwan Abdulrahman
Foto:Istimewa

Musik yang selama ini lekat dengan alam kemudian dipindahkan ke sebuah ruang dengan penonton yang diposisikan sebagai kawan, rekan, dan kolega. Tujuannya agar suasana tetap terasa intim meski berada di dalam ruang pertunjukan.

Ketua panitia, TR Hasan, menyebut konsep tersebut sebagai upaya menghadirkan kembali kejernihan musik Abah Iwan dalam ruang dengan kualitas akustik yang lebih baik.

Menariknya, gagasan tersebut juga muncul karena kondisi Abah Iwan yang kini hampir menginjak usia 80 tahun, tetapi masih memiliki suara yang prima dan permainan gitar yang dinilai sangat jelas.

“Abah tuh hampir 80 tahun, tapi suaranya tetap prima,” ujar TR Hasan dalam keterangannya.

Lagu Abah Iwan Abdulrahman Punya Pesan Kebaikan

Yang membuat musik Abah Iwan Abdulrahman terasa berbeda bukan hanya cara penyampaiannya, tetapi juga pesan yang terkandung di dalam lagu-lagunya.

Lagu-lagu Abah Iwan banyak berbicara mengenai kebaikan, rasa syukur, alam, dan kecintaan terhadap Indonesia.

Pesannya pun sederhana. Ketika menghadapi persoalan, manusia diajak untuk tidak terus larut dalam kemarahan, melainkan memilih bersyukur dan melakukan kebaikan.

Semangat tersebut juga menjadi alasan mengapa perjumpaan musik ini tidak ingin berhenti sebagai hiburan semata.

“Ini sebetulnya ada pretensi lain dari hanya sekadar sebutan bahwa ini mau menghibur. Menghibur pastilah, tapi pretensi lainnya itu tadi, kita tuh ingin berbagi kisah,” jelas TR Hasan.

Musik Api Unggun Abah Iwan Disebut Punya Keunikan Tersendiri

Sutradara acara, A’at Soeratin, melihat musik Abah Iwan Abdulrahman memiliki karakter yang sangat khas.

Menurutnya, musik Abah Iwan dapat disebut sebagai musik api unggun, karena sejak awal banyak lagu tersebut tumbuh dari suasana bernyanyi dan bercerita di sekitar api unggun.

Namun, di balik kesederhanaan tersebut terdapat proses kreatif yang panjang.

Lagu-lagu Abah Iwan merupakan hasil internalisasi dari pengalaman hidup. Bahkan, ada melodi yang tersimpan selama puluhan tahun sebelum akhirnya bertemu dengan syair dan berkembang menjadi sebuah lagu.

Karena itulah, setiap lagu Abah Iwan seolah memiliki cerita di balik kelahirannya.

A’at bahkan menyebut perjumpaan tersebut bukan sebagai sebuah pergelaran musik biasa, melainkan sebuah forum diskusi yang disampaikan melalui media seni musik.

“Berbagi kisah, berbagi hikmah,” menjadi semangat utama yang ingin dibangun melalui konsep tersebut.

Melati dari Jayagiri hingga Berguru kepada Alam

Salah satu kekuatan musik Abah Iwan adalah keterikatannya dengan alam.

Menurut A’at Soeratin, alam menjadi hulu sekaligus muara dari lagu-lagu Abah Iwan. Salah satu gagasan tersebut tercermin dalam lagu Berguru kepada Alam.

Ada pula lagu Melati dari Jayagiri yang selama ini bisa saja dipahami sebagai lagu tentang cinta. Namun, ketika proses penciptaannya dibedah, terdapat cerita yang jauh lebih luas mengenai harapan dan alam.

Karena itu, setiap perjumpaan dengan Abah Iwan tidak hanya menawarkan musik, tetapi juga cerita mengenai bagaimana sebuah lagu lahir.

Formatnya bahkan disebut menyerupai tradisi tutur seperti pantun atau bakaba, ketika musik dan cerita berjalan beriringan.

Abah Iwan Tidak Menyebut Dirinya sebagai Pencipta

Ada satu hal menarik dari cara Abah Iwan memandang karya musiknya.

Ia lebih sering menggunakan istilah “gubahan” dibandingkan menyebutnya sebagai “ciptaan”.

Menurut A’at, bagi Abah Iwan, lirik dan nada sudah ada di mana-mana. Seorang seniman kemudian menggubahnya menjadi sebuah karya.

Pandangan tersebut membuat proses kreatif Abah Iwan terasa semakin menarik karena sebuah lagu tidak dipandang sebagai sesuatu yang selesai begitu saja. Makna dan bentuknya dapat terus berkembang seiring perjalanan waktu.

Musik Indonesia Bukan Sekadar Hiburan

Promotor musik senior Ais Suhana turut memberikan apresiasi terhadap sosok Abah Iwan Abdulrahman.

Ia mengaku sudah mengagumi Abah Iwan sejak masa kuliah dan menilai sang musisi sebagai sosok yang konsisten dalam menjaga kecintaan terhadap alam sekaligus musik-musik Nusantara.

Nama Abah Iwan juga memiliki hubungan panjang dengan sejumlah karya yang dikenal luas, termasuk Melati dari Jayagiri dan karya-karya yang pernah dinyanyikan oleh Bimbo.

Sementara itu, Harry Koko Santoso dari Deteksi Productions menilai sejarah musik Indonesia memang tidak bisa hanya dilihat sebagai hiburan.

Menurutnya, musik dapat menjadi medium yang menginspirasi generasi demi generasi.

“Musik api unggun itu bukan sekadar hiburan. Dia bagian dari bagaimana filosofi api unggun itu menjadi bagian dari anak-anak di negeri ini ke depan,” ujar Harry Koko Santoso.

Ia menilai karya Abah Iwan Abdulrahman memiliki pesan mengenai kecintaan terhadap Indonesia dan kepedulian terhadap alam. Lagu seperti Melati dari Jayagiri dan Flamboyan menjadi contoh bagaimana alam dapat menjadi bagian penting dari karya musik.

Api Unggun yang Kini Hadir di Dalam Ruangan

Konsep memindahkan suasana api unggun ke ruang pertunjukan menjadi daya tarik tersendiri.

Jika dahulu Abah Iwan bernyanyi di alam terbuka, kini suasana tersebut dicoba dihadirkan dalam ruangan dengan tetap mempertahankan unsur kedekatan, cerita, dan komunikasi.

Yang ditawarkan bukan sekadar pertunjukan musik, tetapi sebuah pengalaman untuk mendengarkan lagu sekaligus memahami cerita di baliknya.

“Musik api unggun itu bukan sekadar hiburan. Dia bagian dari bagaimana filosofi api unggun itu menjadi bagian dari anak-anak di negeri ini ke depan,” ujar Harry Koko Santoso.

Dengan konsep tersebut, perjumpaan bersama Abah Iwan Abdulrahman menjadi kesempatan untuk melihat kembali musik Indonesia dari sudut yang berbeda: musik sebagai cerita, musik sebagai pengalaman, dan musik sebagai pesan untuk menjaga alam serta mencintai negeri.

 

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img