Jakarta – Sleeping with the Enemy original series yang akan tayang di WeTV, thriller psikologis terbaru produksi Hitmaker Studios yang langsung mencuri perhatian sejak diperkenalkan ke publik. Bukan tanpa alasan, produser Rocky Soraya menyebut proyek garapan Rizal Mantovani ini sebagai series terbesar sekaligus termahal yang pernah diproduksi Hitmaker Studios.
Menggabungkan thriller psikologis, aksi penuh adrenalin, misteri pembunuhan, hingga romansa berbahaya, Sleeping with the Enemy digadang-gadang menjadi salah satu serial paling ambisius tahun ini.
“Kayaknya ini salah satu series terbesar kami dan termahal kami karena menghadirkan full action, thriller, dan sesuatu yang menarik untuk penonton,” kata Rocky Soraya saat memperkenalkan jajaran pemain Sleeping with the Enemy di Hitmaker Studios, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Deretan pemainSleeping with the Enemy pun tak main-main. Cinta Laura memimpin jajaran pemeran bersama Randy Martin, Anthony Xie, Ersya Aurelia, Soraya Rasyid, Max Metino, Putri Patricia.
Cinta Laura Tampil Gelap, Cerdas, dan Haus Balas Dendam
Salah satu kejutan terbesar datang dari karakter yang dimainkan Cinta Laura. Untuk pertama kalinya, ia memerankan sosok perempuan dengan dua identitas berbeda.
Awalnya ia adalah Aruna, gadis yang hidup bahagia bersama keluarganya. Namun tragedi mengerikan mengubah segalanya ketika seluruh keluarganya dibantai secara brutal.

Delapan tahun kemudian, Aruna muncul kembali dengan identitas baru sebagai Clara, perempuan misterius yang menyusup ke kehidupan orang-orang yang diduga terlibat dalam pembunuhan keluarganya.
“Aruna hidup di lingkungan penuh cinta. Tapi setelah keluarganya dibunuh, semuanya berubah. Delapan tahun kemudian dia kembali sebagai Clara untuk mencari siapa pembunuh keluarganya,” ungkap Cinta Laura.
Clara bukan hanya ingin membalas dendam. Ia digambarkan sebagai perempuan yang sangat cerdas, tenang, manipulatif, dan mampu menyembunyikan emosinya di depan para musuh.

“Clara harus terlihat baik-baik saja saat berada di tengah musuhnya. Padahal di dalam dirinya dia terus menangis.”
Tak hanya itu, perjalanan balas dendam Clara juga dibumbui kisah asmara yang penuh teka-teki.
“Akan banyak adegan yang membuat penonton bingung, Clara akhirnya memilih cowok yang satu atau yang lainnya.”
Rizal Mantovani Janjikan Thriller yang Tak Bisa Ditebak
Sutradara Rizal Mantovani mengaku langsung jatuh hati saat membaca naskah Sleeping with the Enemy karena seluruh karakternya memiliki sisi gelap yang kompleks.
Menurutnya, tidak ada tokoh yang benar-benar baik ataupun sepenuhnya jahat.
“Ini cerita yang penuh layer. Karakter-karakternya flawed dan broken. Dari luar mereka terlihat kuat, tetapi di dalamnya sangat rapuh.”
Tak hanya mengandalkan cerita, Rizal juga menjanjikan tampilan visual yang jauh lebih berani dibanding serial thriller Indonesia pada umumnya.
“Satu kata yang saya bawa adalah edgy. Dari angle kamera, lighting sampai wardrobe, kami ingin series ini punya identitas visual yang kuat.”
Randy Martin Gugup, Anthony Xie Sampai Cedera
Di balik proses syuting Sleeping with the Enemy, Randy Martin mengaku sempat gugup ketika harus membangun chemistry bersama Cinta Laura.
“Aku sudah kenal lama sama Cinta, tapi belum pernah kerja bareng. Pas camera test sempat nervous.”
Sebaliknya, Cinta Laura mengaku Randy membuat proses syuting berjalan nyaman sehingga chemistry keduanya bisa terbangun secara alami.
Sementara itu, Anthony Xie harus membayar mahal adegan aksi yang intens. Pemeran Raven tersebut bahkan mengalami cedera saat mengikuti latihan fighting.
“Waktu workshop fighting aku sempat injury di bagian belakang badan karena adegan action.”
Meski demikian, Anthony memastikan seluruh aksi dalam serial ini akan terasa berbeda karena setiap karakter menyimpan rahasia yang sulit ditebak.
Adegan Intim Dibuat Tanpa Eksploitasi Perempuan
Hal menarik lainnya adalah penggunaan intimacy coordinator selama proses produksi.
Cinta Laura mengungkapkan semua adegan romantis dirancang melalui workshop khusus agar seluruh pemain merasa aman dan nyaman.
“Ini mungkin pertama kalinya aku melakukan adegan yang cukup intim, tapi semuanya sudah didiskusikan bersama.”
Yang membuatnya berbeda, Rizal Mantovani memilih menggunakan pendekatan female gaze, sehingga adegan romantis tetap terasa emosional tanpa mengeksploitasi tubuh perempuan.
Dengan misteri pembunuhan, aksi brutal, permainan identitas, romansa penuh intrik, serta kualitas produksi yang diklaim terbesar sepanjang sejarah Hitmaker Studios, Sleeping with the Enemy berpotensi menjadi salah satu original series WeTV yang paling menyita perhatian pada 2026. Penonton pun dibuat penasaran: akankah Clara berhasil menuntaskan dendamnya, atau justru menjadi korban permainan yang lebih mematikan? (EH).


