Film Lobang Buaya Bukan Sekadar Horor, Hanung Bramantyo Sajikan Misteri dan Plot Twist Tak Terduga

Jakarta – Trailer film Lobang Buaya garapan Hanung Bramantyo rupanya belum cukup untuk mengungkap siapa sosok di balik rangkaian pembunuhan dalam film tersebut. Sejumlah dugaan yang muncul setelah menyaksikan trailer justru disebut belum tentu mengarah pada jawaban sebenarnya.

Hal itu terungkap dalam Gala Premiere Lobang Buaya yang digelar di Epicentrum XXI, Jakarta. Film produksi Adhya Pictures bersama Dapur Film tersebut menggabungkan unsur horor, misteri, dan fiksi sejarah dengan latar Indonesia pada era 1960-an

Gala Premiere turut dihadiri Hanung Bramantyo serta para pemain, di antaranya Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Anya Zen, dan Mathias Muchus.

Lobang Buaya
Foto:Tim Indoseru

Cerita Lobang Buaya berpusat pada Letnan Soegeng yang diperankan Baskara Mahendra. Ia ditugaskan ke Desa Lobang Buaya untuk menyelidiki serangkaian kematian misterius yang menimpa sejumlah tokoh penting di wilayah tersebut.

Penyelidikan kemudian menemukan pola yang semakin mengkhawatirkan. Kematian terjadi secara berkala, tepat setiap tanggal 30. Situasi tersebut membuat warga hidup dalam ketakutan sekaligus saling mencurigai.

Di tengah penyelidikan, Soegeng harus mengurai hubungan antara para tokoh di desa, motif pembunuhan, serta berbagai rahasia yang perlahan muncul. Film pun tidak hanya mengandalkan teror, tetapi menempatkan misteri dan pencarian siapa pelaku sebagai bagian penting dari cerita.

Lobang Buaya
Foto: Tim Indoseru

Penggunaan latar sejarah yang berkaitan dengan periode menjelang tragedi 30 September 1965 menjadi salah satu aspek yang mendapat perhatian. Hanung menjelaskan bahwa Lobang Buaya merupakan karya fiksi dan tidak dimaksudkan untuk menceritakan kembali tragedi tersebut dalam bentuk film horor.

Menurutnya, unsur horor digunakan sebagai bahasa dramatik untuk menggambarkan dendam dan trauma yang muncul dari kejahatan dalam dunia fiksi film.

Ketika cerita bergerak menuju 30 September 1965, film kemudian bersinggungan dengan peristiwa sejarah yang memiliki arti penting bagi masyarakat Indonesia. Karena itu, Hanung mengatakan dirinya sengaja memberikan batas antara kisah fiksi para karakter dengan sejarah yang menjadi latarnya.

Lobang Buaya
Foto: Tim Indoseru

“Saya memahami jika ada orang yang merasa pendekatan horor tidak tepat. Itu adalah pandangan yang sah. Tetapi saya berharap pilihan genre tidak otomatis dianggap sebagai bukti bahwa pembuat film tidak memiliki empati. Bagi saya, empati terhadap sejarah bukan hanya soal memilih genre yang dianggap serius,” ujar Hanung (25/9/2026)

Ia menambahkan, film tersebut dibuat bukan untuk menjadikan tragedi sebagai bahan lelucon, melainkan untuk mengangkat tema mengenai dendam, kekuasaan, dan dampak sebuah kejahatan terhadap kehidupan manusia.

“Saya membuat film ini bukan untuk menertawakan tragedi. Saya membuatnya untuk bercerita tentang bagaimana dendam dan kekuasaan dapat meninggalkan teror yang jauh lebih panjang daripada kehidupan orang-orang yang menciptakannya,” katanya.

Sementara itu, Baskara Mahendra mengakui karakter Soegeng menjadi salah satu peran yang memberikan pengalaman berbeda baginya. Selain harus beradaptasi dengan latar Indonesia era 1960-an, Baskara juga dituntut mengikuti alur investigasi dengan sejumlah perubahan arah cerita.

Menariknya, aktor yang berperan sebagai sosok penyelidik tersebut mengaku dirinya sendiri sempat tidak mampu menebak siapa dalang di balik rangkaian pembunuhan.

“Memerankan Soegeng benar-benar pengalaman yang sangat unik bagi saya. Di film ini saya harus bermain peran di latar yang tidak familiar dengan saya, yaitu Indonesia tahun 1960-an, dan mengikuti investigasi Soegeng dengan banyaknya plot twist di film ini adalah pengalaman yang seru banget, bahkan saya yang ikut main filmnya nggak bisa nebak siapa dalangnya,” tutur Baskara.

Pernyataan tersebut menjadi gambaran bahwa film sengaja menyimpan sejumlah informasi penting hingga bagian akhir. Karakter-karakter yang muncul juga dibangun dengan rahasia dan kepentingannya masing-masing sehingga penonton diajak mengikuti proses penyelidikan bersama Soegeng.

Dengan pendekatan tersebut, Lobang Buaya menempatkan misteri sebagai salah satu kekuatan utama cerita. Trailer yang beredar pun belum tentu memberikan gambaran utuh mengenai siapa sebenarnya yang berada di balik rangkaian pembunuhan.

Film Lobang Buaya dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img