Jakarta – PADI Reborn kembali menjadi perbincangan hangat setelah merilis video lirik “Punah”, single ketiga dari album 28. Alih-alih hanya menuai pujian, lagu terbaru yang ditulis Piyu ini justru memantik dua reaksi besar: musiknya disebut sebagai “PADI yang selama ini dirindukan”, sementara penggunaan visual berbasis AI memecah pendapat para penggemar.
Sejak tayang di YouTube lagu PADI Reborn, kolom komentar langsung dibanjiri ribuan respons dari Sobat Padi. Mayoritas mengaku merasakan atmosfer PADI era akhir 1990-an hingga awal 2000-an masa ketika band ini melahirkan lagu-lagu ikonik dengan lirik puitis, aransemen megah, dan emosi yang kuat.
Komentar seperti “Ini baru kerasa Padi-nya”, “Balik ke DNA PADI”, hingga “Dengar intro langsung tahu ini PADI” mendominasi. Banyak pula yang mengaku sudah mengikuti perjalanan PADI Reborn tersebut sejak 1998 dan menyebut “Punah” sebagai karya terbaik mereka dalam beberapa tahun terakhir.

Bukan Lagu Cinta, “Punah” Justru Tampar Kondisi Zaman
Berbeda dari lagu-lagu romantis yang melejitkan nama mereka, “Punah” hadir membawa pesan yang jauh lebih luas. Liriknya dipenuhi metafora tentang kerusakan lingkungan, kemanusiaan, hingga kondisi sosial yang dinilai semakin mengkhawatirkan.
Tak heran jika banyak pendengar menganggap lagu ini sebagai kritik yang elegan terhadap realitas saat ini.
Beberapa komentar bahkan menyebut:
- “Kritikan yang berkelas kepada penguasa.”
- “Sangat relevan dengan kondisi Indonesia hari ini.”
- “Bikin merinding karena terasa nyata.”

Ada pula yang mengaitkannya dengan isu deforestasi, bencana lingkungan, hingga refleksi spiritual mengenai tanggung jawab manusia menjaga bumi.
Nuansa Muse? Netizen Bilang Tetap 100 Persen PADI
Selain liriknya, aransemen musik juga menjadi sorotan.
Banyak pendengar menangkap nuansa rock alternatif modern yang mengingatkan pada band asal Inggris, Muse. Permainan gitar, dinamika lagu, hingga gebukan drum Yoyo disebut memiliki sentuhan progresif yang membuat PADI terdengar lebih segar.

Meski begitu, hampir semua komentar sepakat bahwa identitas PADI tetap sangat kuat.
“Taste Muse, tapi tetap PADI.”
“Sudah lebih progresif, tapi ciri khasnya nggak hilang.”
“This is PADI.”
Video AI Dipuji, Tapi Banyak yang Minta PADI Kembali ke Visual Organik
Di balik banjir pujian terhadap lagunya, video lirik “Punah” justru memunculkan perdebatan.
Sebagian penonton mengapresiasi keberanian PADI menggunakan visual berbasis AI yang dianggap megah dan berbeda dari karya sebelumnya.
Namun, tidak sedikit yang berharap eksperimen tersebut tidak menjadi identitas baru band.
Salah satu komentar yang paling banyak mendapat dukungan menyebut bahwa kekuatan PADI selama ini lahir dari musik yang dimainkan secara nyata. Karena itu, visualnya dinilai akan jauh lebih kuat jika menggunakan sinematografi asli, dokumentasi kondisi lingkungan, penampilan live, atau animasi seperti era “Tempat Terakhir”, dibanding ilustrasi AI.
Meski memberikan kritik, mayoritas penggemar tetap menegaskan bahwa kualitas lagunya nyaris tidak terbantahkan.
Album 28 Mulai Panen Pujian, Netizen Minta Lagu Lain Segera Dibuatkan Video
Antusiasme terhadap “Punah” juga berdampak pada album 28 secara keseluruhan.
Banyak penggemar mulai meminta PADI Reborn segera merilis video untuk lagu-lagu lain seperti “Berbalik Arah”, “Beginikah Rasanya”, hingga “Meratap di Sini”.
Hal ini menunjukkan perhatian publik tidak hanya tertuju pada single yang sedang dipromosikan, tetapi juga terhadap keseluruhan materi album.
“Punah” Dinilai Jadi Bukti PADI Tak Kehilangan Taring
Di tengah tren musik yang terus berubah, “Punah” dianggap menjadi bukti bahwa PADI Reborn tidak perlu mengikuti arus demi tetap relevan.
Band ini justru kembali pada kekuatan utamanya: lirik puitis, aransemen emosional, dan keberanian mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Perdebatan mengenai video AI mungkin masih akan berlanjut. Namun satu hal yang sulit dibantah, mayoritas pendengar sepakat bahwa “Punah” menjadi salah satu karya paling kuat PADI Reborn dalam satu dekade terakhir.
Bahkan, banyak penggemar menyebut lagu ini sebagai sinyal bahwa PADI akhirnya benar-benar kembali ke “DNA emas” yang selama ini mereka rindukan.


