Indoseru – Pernyataan Ulta Levenia Nababan mengenai erupsi sejumlah gunung api di Indonesia memicu polemik. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) itu mempertanyakan kemungkinan adanya faktor lain di balik erupsi beberapa gunung yang terjadi dalam waktu berdekatan.
Ulta juga menyinggung proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) dalam pernyataannya. Ia mengaku menyadari pandangannya dapat dianggap sebagai teori konspirasi.
Pernyataan tersebut kemudian mendapat sorotan dari Direktur Rumah Politik Indonesia, Fernando Emas. Ia meminta Presiden RI Prabowo Subianto mengevaluasi Ulta jika pernyataan tersebut dinilai tidak benar dan berisiko mengganggu hubungan Indonesia dengan negara lain.
“Saya berharap Prabowo melakukan evaluasi terhadap Ulta Levina kalau dianggap pernyataannya tersebut tidak benar dan berisiko mengganggu hubungan baik dengan negara lain,” kata Fernando kepada awak media, Selasa, 8 September 2026.
Fernando Soroti Dugaan Faktor Asing
Fernando mempertanyakan kapasitas dan dasar analisis Ulta ketika menyampaikan dugaan adanya campur tangan asing dalam erupsi sejumlah gunung api.
Menurut Fernando, narasi tersebut dapat menimbulkan persepsi negatif terhadap negara lain. Pernyataan itu juga dinilai dapat memancing spekulasi di tengah masyarakat.
“Narasi tersebut akan sangat mungkin membuat hubungan Indonesia dengan negara-negara lain tidak baik karena memancing spekulasi terhadap siapa saja yang mendengarnya,” jelas Fernando.
Fernando juga menilai pernyataan seperti itu dapat menimbulkan keresahan apabila disampaikan tanpa dasar yang kuat.
Ia kemudian mempertanyakan konsekuensi yang muncul apabila dugaan mengenai keterlibatan pihak asing tersebut ternyata benar.
“Apa semua yang disampaikan Presiden Prabowo hanya omon-omon saja?” ujar Fernando.
Fernando bahkan mengaitkan polemik tersebut dengan klaim pemerintah mengenai posisi Indonesia yang semakin disegani dan dihormati negara lain.
“Pernyataan Ulta Levina akhirnya mengungkap bahwa selama ini Prabowo hanya berhalusinasi terkait semakin disegani dan dihormati oleh negara-negara lain,” katanya.
Ulta Kaitkan HAARP dengan Erupsi
Polemik bermula ketika Ulta Levenia Nababan membahas fenomena erupsi enam gunung api di Indonesia yang terjadi pada periode berdekatan.
Ulta mempertanyakan apakah rangkaian erupsi tersebut sepenuhnya merupakan fenomena alam atau terdapat kemungkinan lain.
Dalam unggahannya, Ulta juga mengaitkan pembahasan tersebut dengan proyek HAARP. Ia menyebut dirinya skeptis dan tidak ingin menerima begitu saja penjelasan yang dianggap umum.
“Walau gak ada bukti ilmiah yang kredibel, tapi otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran,” tulis Ulta dalam pernyataannya seperti dikutip dari akun Instagram miliknya.
Ulta kemudian menyinggung pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok. Ia menghubungkan waktu pertemuan tersebut dengan fenomena erupsi gunung api yang terjadi setelahnya.
Namun, Ulta juga menegaskan bahwa pandangan mengenai HAARP tersebut merupakan pendapat pribadi dan belum memiliki bukti ilmiah.
Ulta Sebut Pendapatnya Diserang
Ulta kembali memberikan tanggapan setelah pernyataannya mengenai HAARP menjadi polemik.
Plt. Deputi Bidang Pembinaan Komunikasi Pemerintah di Badan Komunikasi, Ulta Levenia Nababan, mengatakan HAARP sudah lama menjadi pembicaraan global.
“Jadi gini project HAARP ini udah jadi obrolan globally DARI DULU, INI BUKAN BARANG BARU, masyarakat Indonesia aja yang baru syok,” kata Ulta di Instagram, Selasa (8/9).
Ia menilai sejumlah pihak menyerang pernyataannya karena framing yang menurutnya membuat masyarakat salah memahami konteks.
“Dan ketika saya ngomong ini sebagai pendapat pribadi tiba-tiba buzzer langsung menyerang ingin membodohi masyarakat dengan framing,” sesalnya.
Ulta kembali menegaskan bahwa unggahannya sudah menyebut status pernyataan tersebut sebagai pendapat pribadi.
“Coba lah pelajari, di caption jelas saya bilang bahwa ini pendapat pribadi dan belum ada bukti ilmiah tapi patut di entertain agar kita selalu skeptis,” ucapnya.
Ia juga membandingkan respons publik terhadap pernyataannya dengan sejumlah pernyataan kontroversial lain yang menurutnya tidak mendapat sorotan serupa.
“Tapi, Ada Pendapat Pribadi keluar mengedukasi eeeehhh BUZZER MELAWAN tambah lagi media mainstream mainkan framing,” tutur Ulta.
Ulta kemudian meminta masyarakat membaca secara utuh unggahan yang menjadi sumber polemik tersebut.
“Baca caption,” serunya.
Pakar Bantah Erupsi Akibat Rekayasa Teknologi
Pakar gempa bumi dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, membantah anggapan bahwa erupsi sejumlah gunung api Indonesia terjadi akibat rekayasa teknologi atau penggunaan senjata.
Daryono menjelaskan bahwa erupsi gunung api merupakan bagian dari dinamika internal Bumi. Proses tersebut melibatkan pelepasan energi endogenik dalam skala sangat besar di bawah permukaan.
“Dalam terminologi geologi, tektonik, dan geofisika, erupsi gunung api merupakan pelepasan energi endogenik Bumi berskala sangat masif yang mustahil disimulasi, dibangkitkan, atau dikendalikan oleh teknologi buatan manusia mana pun,” ujar Daryono pada Selasa (8/9/2026).
Menurut Daryono, energi yang mendorong erupsi berasal dari dinamika mantel Bumi pada kedalaman puluhan hingga ratusan kilometer.
Magma bergerak naik karena gaya apung akibat densitasnya lebih rendah dibandingkan batuan di sekitarnya. Proses itu juga berkaitan dengan akumulasi tekanan gas seperti uap air, karbon dioksida, dan sulfur dioksida.
Tekanan dalam sistem magma dapat mencapai tingkat sangat tinggi. Karena itu, Daryono menyatakan tidak ada mekanisme teknologi yang masuk akal untuk sengaja mengubah tekanan fluida silikat di kedalaman tersebut guna memicu erupsi.
“Tidak ada teknologi gelombang elektromagnetik maupun ledakan buatan manusia yang sanggup menembus kedalaman kerak Bumi untuk mengubah tekanan fluida silikat tersebut secara sengaja,” ujarnya.
Indonesia Memang Berada di Cincin Api
Daryono menjelaskan tingginya aktivitas vulkanik Indonesia memiliki dasar geologis. Indonesia berada di kawasan Cincin Api atau Ring of Fire.
Wilayah Indonesia menjadi tempat interaksi sejumlah lempeng tektonik utama, antara lain Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, dan Filipina.
Penunjaman lempeng samudra ke bawah lempeng lainnya membawa air dan sedimen ke kedalaman Bumi. Dalam proses geologi yang berlangsung sangat panjang, kondisi tersebut berkontribusi terhadap pelelehan batuan mantel dan pembentukan magma.
“Indonesia merupakan tempat bertemunya beberapa lempeng tektonik utama dunia,” ujar Daryono.
Menurut dia, suplai magma di kawasan vulkanik Indonesia merupakan bagian dari proses geologi yang telah berlangsung selama jutaan tahun.
Karena itu, erupsi beberapa gunung api dalam periode yang berdekatan tidak otomatis menunjukkan adanya intervensi teknologi manusia.
Daryono menyebut aktivitas tektonik regional dan perubahan tegangan di kerak Bumi dalam kondisi tertentu dapat memengaruhi sistem gunung api yang sebelumnya berada dalam kondisi kritis.
“Fenomena ini merupakan rekayasa alamiah berupa respons berantai tektonik, bukan akibat intervensi lokal oleh pihak tertentu,” katanya.
Erupsi Memiliki Tanda yang Bisa Dipantau
Daryono menjelaskan erupsi pada umumnya didahului sejumlah perubahan yang dapat dipantau menggunakan instrumen geofisika dan geokimia.
Perubahan tersebut antara lain peningkatan seismisitas, gempa vulkanik dalam dan dangkal, tremor, deformasi tubuh gunung api, perubahan komposisi atau rasio gas vulkanik, serta peningkatan suhu.
Instrumen seperti GPS dan tiltmeter juga dapat merekam perubahan bentuk tubuh gunung api ketika terjadi perubahan pada sistem magma di bawah permukaan.
“Erupsi tidak pernah terjadi secara mendadak melalui tombol kendali otomatis, melainkan diawali oleh rekaman seismisitas berupa gempa vulkanik dalam dan dangkal serta tremor akibat rekahan batuan saat magma bergerak naik,” ujar Daryono.
Menurut Daryono, rangkaian perubahan tersebut menunjukkan bahwa proses menuju erupsi berlangsung secara bertahap.
Akumulasi magma, tekanan, dan energi di dalam sistem gunung api dapat berlangsung dalam waktu panjang sebelum mencapai kondisi yang memicu erupsi.
Daryono Sebut Narasi Rekayasa Teknologi Tidak Berdasar
Daryono menilai narasi yang mengaitkan erupsi gunung api dengan senjata atau rekayasa teknologi mengabaikan prinsip dasar fisika dan geologi.
Ia menjelaskan lapisan batuan di bawah permukaan Bumi merupakan lingkungan yang kompleks bagi perambatan energi.
Teknologi manusia juga dinilai tidak memiliki sumber energi dan mekanisme realistis untuk mengendalikan pergerakan magma dalam jumlah sangat besar di kedalaman Bumi.
“Manusia tidak memiliki sumber energi yang cukup besar untuk merekayasa pergerakan jutaan meter kubik magma bersuhu hingga 1.200 derajat Celsius,” ujar Daryono.
Daryono menegaskan aktivitas vulkanik Indonesia merupakan konsekuensi kondisi geologi yang telah berlangsung dalam rentang waktu sangat panjang.
Menurut dia, fenomena erupsi beruntun perlu dipahami berdasarkan data kegempaan, deformasi, geokimia, dan pengamatan gunung api.
“Narasi yang mengaitkan erupsi beruntun dengan rekayasa teknologi merupakan bentuk disinformasi yang mengabaikan sains dasar, mengingat aktivitas vulkanik Indonesia adalah keniscayaan dinamis dari geologi Bumi yang terus bergerak,” ujar Daryono.
Daryono kemudian meminta masyarakat tidak menyebarkan informasi mengenai erupsi yang tidak memiliki dasar ilmiah.
“Kita sakit boleh saja, tapi jangan mengajak orang lain yang sehat untuk ikut sakit,” ujar Daryono.


