Empat Musim Pertiwi Bikin Heboh! Putri Marino Pulang ke Bromo, Kamila Andini Bongkar Dunia Sci-Fi yang Penuh Misteri

JAKARTA — Empat Musim Pertiwi mulai membuka tabir misterinya lewat trailer dan poster resmi. Film terbaru garapan Kamila Andini, sutradara Gadis Kretek, ini menghadirkan perpaduan drama personal, eksplorasi karakter, lanskap Bromo yang spektakuler, hingga elemen sci-fi yang membuat filmnya terasa berbeda dari kebanyakan film Indonesia.

Dibintangi Putri Marino sebagai Pertiwi, Empat Musim Pertiwi membawa kisah seorang perempuan yang kembali ke tanah kelahirannya setelah puluhan tahun meninggalkan tempat tersebut. Kepulangannya ternyata bukan sekadar perjalanan nostalgia, melainkan pertemuan kembali dengan orang-orang dari masa lalu yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Ada sosok-sosok yang pernah menghadirkan “musim baik”, tetapi ada pula mereka yang meninggalkan luka dan menjadi “musim terburuk” dalam kehidupan Pertiwi.

Empat Musim Pertiwi

Bukan Drama Biasa, Empat Musim Pertiwi Diam-Diam Bawa Sci-Fi

Salah satu hal yang paling membuat Empat Musim Pertiwi menarik perhatian adalah keberanian Kamila Andini memasukkan unsur sci-fi ke dalam cerita yang berangkat dari pengalaman personal seorang perempuan.

Kamila dikenal lewat karya-karyanya yang kuat dalam mengeksplorasi karakter, budaya, relasi manusia, serta pengalaman perempuan. Kali ini, ia membawa pendekatan berbeda dengan menggabungkan drama dan elemen fiksi ilmiah.

Empat Musim Pertiwi

Bagi Kamila, sci-fi bukan sekadar gimmick visual. Elemen tersebut menjadi bagian dari cara film mengeksplorasi perjalanan Pertiwi dan dunia yang ia hadapi.

Hasilnya, Empat Musim Pertiwi menjadi film yang sulit ditempatkan hanya sebagai drama keluarga atau drama perempuan. Ada dunia lain yang perlahan dibangun di balik kisah kepulangan Pertiwi.

Bromo Jadi Panggung Besar Empat Musim Pertiwi

Empat Musim Pertiwi

Kalau trailer Empat Musim Pertiwi membuat penasaran, lanskap Bromo menjadi salah satu alasan utamanya.

Sebagian besar proses syuting film ini dilakukan di kawasan Bromo pada 2025. Permukiman, persawahan, hingga hamparan pasir Bromo dimanfaatkan sebagai bagian penting dari dunia visual film.

Skala produksinya pun disebut menjadi yang terbesar dalam perjalanan Forka Films. Konsekuensinya, kebutuhan logistik hingga desain produksi menjadi jauh lebih kompleks.

Bromo tidak hanya hadir sebagai latar. Lanskap alam tersebut justru menjadi bagian dari atmosfer dan identitas visual Empat Musim Pertiwi.

Putri Marino Sudah Dipersiapkan Jadi Pertiwi Sejak 2017

Di balik visual spektakuler tersebut, pusat cerita Empat Musim Pertiwi tetap berada pada karakter Pertiwi.

Putri Marino menghadapi karakter perempuan dengan perjalanan hidup yang panjang dan penuh lapisan. Untuk memahami kondisi batin Pertiwi, Kamila memberikan sejumlah referensi kepada Putri, termasuk novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi.

Referensi tersebut membantu Putri membangun sosok Pertiwi yang digambarkan dingin dan seolah telah kehilangan sebagian sisi emosionalnya.

Yang menarik, Putri Marino ternyata telah dipersiapkan untuk memainkan Pertiwi sejak ide film ini mulai dikembangkan pada 2017.

Artinya, perjalanan Empat Musim Pertiwi hingga akhirnya menuju layar lebar bukanlah proses singkat.

Reuni Tim Gadis Kretek, Ada Arya Saloka hingga Christine Hakim

Kehadiran Empat Musim Pertiwi juga menjadi reuni bagi sejumlah nama dari Gadis Kretek.

Kamila Andini kembali bekerja bersama produser Ifa Isfansyah dan Putri Marino. Kali ini, mereka menghadirkan jajaran pemain yang terdiri dari Arya Saloka, Christine Hakim, Hana Malasan, Shofia Shireen, Nagra Pakusadewo, Dwika Pradnyana, Maryam Supraba, Hanna Aretha, dan Totos Rasiti.

Film ini juga membawa semangat keberagaman dalam jajaran pemainnya melalui keterlibatan Dwika Pradnyana, aktor dengan vitiligo, serta Hanna Aretha, aktor tuli.

Belum Tayang di Indonesia, Empat Musim Pertiwi Sudah Melangkah ke Festival Dunia

Perjalanan Empat Musim Pertiwi ternyata tidak berhenti di Indonesia.

Film ini akan menjalani world premiere di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 pada September. Kehadiran tersebut sekaligus menjadi momen penting bagi Kamila Andini yang sebelumnya membawa Yuni meraih Platform Prize di TIFF 2021.

Setelah Toronto, Empat Musim Pertiwi juga dijadwalkan hadir di Busan International Film Festival (BIFF) 2026 melalui program A Window On Asian Cinema.

Film tersebut dijadwalkan hadir di Busan bertepatan dengan periode perilisan bioskop Indonesia pada Oktober mendatang.

Enam Negara Terlibat dalam Produksi Empat Musim Pertiwi

Ambisi Empat Musim Pertiwi juga terlihat dari skala produksinya yang melibatkan enam negara: Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia.

Film ini turut berkolaborasi dengan Miles Films, Jagartha, Trinity Optima, Imajinari, Team Up, Julie Estelle, dan Navvaros, serta memperoleh dukungan sponsor dari Oriflame.

Untuk distribusi dan perjalanan internasional, Forka Films mempercayakan representasi Empat Musim Pertiwi kepada Goodfellas, international sales agent asal Prancis yang dikenal menangani film-film auteur dengan perjalanan festival internasional.

Film ini Siap Jadi Salah Satu Film Indonesia Paling Bikin Penasaran

Perpaduan Kamila Andini, Putri Marino, sci-fi, misteri masa lalu, lanskap Bromo, skala produksi besar, serta perjalanan menuju TIFF dan BIFF membuat Empat Musim Pertiwi menjadi salah satu film Indonesia yang patut diperhitungkan pada 2026.

Pertanyaannya kini: apa sebenarnya yang terjadi pada Pertiwi hingga ia harus kembali setelah puluhan tahun pergi?

Jawabannya baru akan terungkap ketika film ini hadir di bioskop Indonesia pada Oktober 2026

GoogleNews

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_img