JAKARTA — Kreatif Merdeka Carnival 2026 mengangkat tantangan industri film anak Indonesia melalui Diskusi Film Anak Indonesia yang digelar di PFN Heritage, Jalan Otista Raya No. 125–127, Jakarta Timur, Senin (10/8/2026).
Dalam rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 tersebut, sejumlah praktisi perfilman membahas berbagai persoalan yang dihadapi industri film anak, mulai dari kualitas cerita, perkembangan teknologi, keberlanjutan produksi, hingga kebutuhan membangun ekosistem yang mendukung karya untuk penonton anak.
Kegiatan Kreatif Merdeka Carnival 2026 ini menjadi ruang pertemuan antara pelaku industri kreatif dengan generasi muda, khususnya pelajar dan guru SMA, SMK, dan MA yang memiliki ketertarikan terhadap film dan industri kreatif. Diskusi diharapkan dapat memberikan pemahaman bahwa film anak bukan hanya persoalan membuat tontonan, tetapi juga membangun karakter dan budaya menonton.

Melalui Kreatif Merdeka Carnival 2026, penyelenggara PT Avatara Lintas Media juga mendorong semakin terbukanya ruang dialog antara pembuat film, generasi muda, orang tua, media, pemerintah, dan berbagai pihak yang berkaitan dengan perkembangan industri film Indonesia.
Diskusi bertema “Tantangan Industri Film Anak” menghadirkan Ketua Umum BPI Fauzan Zidni, sutradara Pelangi di Mars Upie Guava, sutradara sekaligus pemilik Sanggar Ananda Aditya Gumay, serta Ketua Umum KFT Indonesia Indriyanto Kurniawan. Diskusi dipandu Mario Tetelepta di gelaran Kreatif Merdeka Carnival 2026.
Industri Film Anak Membutuhkan Ekosistem Berkelanjutan

Ketua Umum KFT Indonesia Indriyanto Kurniawan mengatakan tantangan film anak tidak dapat diselesaikan hanya dengan memproduksi satu atau dua film yang berhasil. Menurutnya, industri membutuhkan kesinambungan agar film anak memiliki ruang yang konsisten di Indonesia.
“Dunia sekarang sudah tanpa sekat. Tidak ada lagi lokal dan global,” ujar Indriyanto dalam diskusi Kreatif Merdeka Carnival di PFN Heritage, Jalan Otista Raya, Jakarta Timur, Senin (10/8/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut membuat film anak Indonesia harus mampu bersaing dengan berbagai produk hiburan dari luar negeri yang dikonsumsi anak-anak setiap hari.

Indonesia, kata Indriyanto, tetap dapat mengedepankan unsur budaya lokal. Namun, unsur tersebut harus dikemas dengan pendekatan yang mampu diterima penonton global.
“Ketika dia membandingkan produk satu dengan produk lain, apakah ditanya ini produk Indonesia atau produk luar? Tidak. Artinya dia sudah membandingkan,” katanya.
Karena itu, kualitas menjadi salah satu kunci utama agar film anak Indonesia memiliki daya saing.
Storytelling dan Teknologi Jadi Kunci
Indriyanto menilai setidaknya ada dua aspek yang harus terus diperbarui dalam produksi film anak, yakni storytelling dan teknologi.
Dari sisi cerita, film anak harus mampu berbicara langsung dengan dunia anak. Cerita tidak cukup hanya dilihat dari perspektif orang dewasa, tetapi harus memiliki kedekatan dengan pengalaman dan cara berpikir anak-anak masa kini.
“Film itu harus secara naratif, secara storytelling, harus berbicara langsung,” ujarnya.
Selain cerita, perkembangan teknologi juga tidak dapat dipisahkan dari industri film. Anak-anak saat ini tumbuh bersama gim, televisi, platform digital, dan berbagai teknologi visual.
Karena itu, pembuat film anak perlu mengikuti perkembangan teknologi agar karya yang dihasilkan tetap relevan dengan pengalaman penonton muda.
“Kalau film-film anak kita belum mengadopsi itu atau belum bisa menggunakan itu, maka anak-anak kita bilang, ‘enggak keren’,” kata Indriyanto.
BPI Buka Ruang bagi Kreator dari Berbagai Daerah
Ketua Umum BPI Fauzan Zidni mengatakan ekosistem film anak juga membutuhkan ruang bagi kreator baru untuk mengembangkan gagasan.
BPI, menurut Fauzan, baru saja membuka open call kompetisi ide cerita yang dapat diikuti kreator dari berbagai daerah di Indonesia.
“Kami membuka open call kepada seluruh masyarakat Indonesia, kreator Indonesia, dari Aceh sampai Papua,” ujarnya.
Karya yang masuk akan diseleksi berdasarkan kualitas cerita, keberagaman cerita, serta karakter utama yang ditawarkan.
Ide cerita terpilih kemudian diharapkan dapat dipertemukan dengan produser sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi proyek film.
Tidak berhenti pada kompetisi, program tersebut juga dilengkapi dengan workshop yang melibatkan sejumlah pelaku industri perfilman. Langkah tersebut diharapkan membantu kreator mematangkan ide sebelum masuk ke tahap produksi.
Fauzan menilai upaya membangun ekosistem tersebut penting untuk memberikan kesempatan lebih besar kepada kreator Indonesia, termasuk mereka yang berasal dari luar pusat industri perfilman.
Dukungan Pemerintah Masih Dibutuhkan
Selain pelaku industri, dukungan pemerintah juga menjadi bagian penting dalam pengembangan film Indonesia.
Fauzan menyebut terdapat sejumlah bentuk dukungan pemerintah, termasuk bantuan bagi karya Indonesia yang berhasil masuk festival internasional. Dukungan tersebut antara lain dapat berupa bantuan perjalanan untuk menghadiri festival serta program pengembangan proyek.
Menurutnya, berbagai bentuk dukungan tersebut perlu terus dikembangkan agar semakin banyak proyek film Indonesia memiliki kesempatan untuk berkembang dan dikenal di tingkat internasional.
Sementara itu, Indriyanto menilai pemerintah sebenarnya telah menunjukkan dukungan terhadap industri film. Namun, implementasinya masih menghadapi sejumlah tantangan administratif.
“Pemerintah kita sudah cukup adaptif, sangat mendukung hal itu, cuma mungkin agak telat karena ada prosedural yang selalu berkelok-kelok,” ujarnya.
Media dan Orang Tua Punya Peran Penting
Pendiri sekaligus Direktur PT Avatara Lintas Media Herty Paulina Purba menilai perkembangan film anak juga tidak dapat dilepaskan dari dukungan media dan orang tua.
Menurut Herty, pembuat film anak membutuhkan ekosistem komunikasi yang dapat membantu memperkenalkan karya kepada masyarakat.
Ia mengingatkan agar pemberitaan mengenai film tidak hanya berfokus pada kekurangan sebuah karya. Kritik tetap penting, tetapi perlu disampaikan secara konstruktif dengan mempertimbangkan proses panjang dan kerja keras banyak orang di balik produksi film.
“Di dalam setiap film itu pasti ada hal baiknya,” ujar Herty.
Menurutnya, kritik keras tetap diperlukan apabila sebuah film membawa pesan yang berbahaya, misalnya mengajarkan kekerasan. Namun, persoalan cerita atau visual sebaiknya menjadi bahan evaluasi yang disampaikan secara proporsional.
Herty juga mendorong orang tua untuk lebih aktif mengajak anak menonton film yang sesuai. Menurutnya, film dapat menjadi sarana bagi anak untuk belajar berkonsentrasi, memahami cerita, serta mengenal nilai-nilai kehidupan.
Upie Guava dan Aditya Gumay Bahas Perspektif Kreatif
Diskusi Film Anak Indonesia dalam Kreatif Merdeka Carnival 2026 juga menghadirkan sutradara Upie Guava dan Aditya Gumay.
Upie Guava, sutradara film Pelangi di Mars, memberikan perspektif dari sisi kreatif dan produksi film yang menyasar generasi muda. Kehadirannya menjadi bagian dari upaya mempertemukan pengalaman praktisi perfilman dengan peserta yang sebagian besar berasal dari kalangan pelajar di acara Kreatif Merdeka Carnival 2026.
Sementara Aditya Gumay, sutradara sekaligus pemilik Sanggar Ananda, membawa perspektif mengenai pengembangan kreativitas dan keterlibatan anak dalam dunia seni serta perfilman diacara Kreatif Merdeka Carnival.
Kehadiran para narasumber dengan latar belakang berbeda tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan film anak membutuhkan kolaborasi lintas bidang, mulai dari kreator, produser, lembaga perfilman, pendidik, orang tua, media, hingga pemerintah.
PFN Heritage Didorong Jadi Ruang Kreatif
Pelaksanaan diskusi di PFN Heritage juga memiliki arti tersendiri bagi penyelenggara. Herty Paulina Purba berharap kawasan tersebut ke depan dapat menjadi salah satu ruang bagi berbagai aktivitas kreatif.
Tidak hanya film, kegiatan yang berkaitan dengan musik dan bidang kreatif lainnya diharapkan dapat berkembang di kawasan tersebut.
Menurut Herty, keberadaan ruang kreatif di Jakarta Timur juga memiliki nilai strategis karena aktivitas industri kreatif selama ini lebih banyak dikenal berada di wilayah Jakarta Selatan.
Ia berharap PFN Heritage dapat menjadi ruang pertemuan bagi pelaku industri, komunitas, pelajar, dan generasi muda yang ingin mengenal lebih jauh dunia kreatif.
Generasi Muda Jadi Bagian Penting Industri Film
Kreatif Merdeka Carnival 2026 mengusung semangat “Berkarya, Berbudaya, Bersatu” dan menghadirkan rangkaian diskusi mengenai perfilman, konten digital, artificial intelligence (AI), animasi, serta isu disabilitas.
Peserta kegiatan Kreatif Merdeka Carnival ditujukan bagi pelajar dan guru SMK, SMA, dan MA serta generasi muda yang memiliki ketertarikan terhadap film dan industri kreatif.
Antusiasme peserta Kreatif Merdeka Carnival dalam Diskusi Film Anak Indonesia juga menjadi salah satu catatan penting penyelenggara. Herty menilai peserta dari kalangan pelajar menunjukkan sikap kritis dan antusias mengikuti pembahasan.
Menurutnya, forum Kreatif Merdeka Carnival semacam ini perlu diperbanyak agar generasi muda tidak hanya menjadi konsumen karya kreatif, tetapi juga memahami proses dan peluang untuk terlibat sebagai kreator.
Pada akhirnya, masa depan film anak Indonesia tidak hanya bergantung pada jumlah film yang diproduksi. Kualitas cerita, teknologi, keberlanjutan ekosistem, dukungan pemerintah, peran orang tua, media, serta keterlibatan generasi muda menjadi faktor yang saling berkaitan.
Melalui Kreatif Merdeka Carnival 2026, pembahasan mengenai film anak diharapkan tidak berhenti sebagai diskusi, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem perfilman Indonesia yang lebih kuat, berkelanjutan, dan mampu menghadirkan karya yang relevan bagi generasi masa kini. (EH)


